Thursday, March 6, 2014

APAKAH YESUS SEORANG KRISTEN?



Pemahaman Mengenai Hakikat Yesus Sang Mesias:

Antara Yang Ilahi dan Yang Manusiawi


Yesus adalah Sang Firman yang menjadi manusia, demikian Yohanes 1;14 memberikan kesaksian kepada kita. Konsekwensi logisnya, Yesus memiliki aspek keilahian dan sekaligus aspek kemanusiaan. Aspek keilahian tersebut dinampakkan bahwa hakikat Yesus adalah Sang Firman yang setara, sehakikat, melekat dengan Tuhan (Yoh 1:1). Firman tidak diciptakan melainkan daya cipta Tuhan yang menjadikan segala sesuatu ada (Kej 1:3, Mzm 33:6, Yoh 1:3). 

Karena Firman tidak diciptakan maka Firman itu kekal adanya. Firman bukan yang begitu saja serupa dengan Tuhan sebagaimana terungkap dalam frasa, “Firman itu bersama dengan Tuhan” (Yoh 1:1) namun serentak bahwa Firman bukan yang berbeda dengan Tuhan hal itu terungkap dalam frasa “Firman itu adalah Tuhan” (Yoh 1:1). Frasa “bersama” menunjukkan perbedaan dan frasa “adalah” menunjukkan kesatuan.

Sang Firman yang menjadi manusia demi tugas penyelamatan dunia dan manusia, demi memperdamaikan perseteruan antara manusia dengan Tuhan itu, tidak lahir dalam ruang kosong yang bersifat metahistoris. Dia datang dalam suatu lingkup kehidupan, peradaban dan kebudayaan serta peradaban Yahudi dan Yudaisme.

Dengan menyatakan aspek Keyahudian Yesus, bukan berarti kita meniadakan aspek Ontologis Yesus sebagai Sang Firman yang menjadi manusia, namun kita hendak mendalami aspek Anthropologis Yesus sebagai Firman yang menjadi Manusia. Manusia Ilahi itu lahir dalam konteks ruang dan waktu, yaitu Yerusalem yang dijajah dan dikuasai Pemerintahan Romawi. Konteks kebudayaan dan keagamaan tertentu, yaitu Yahudi dan Yudaisme.

Friday, November 8, 2013

TOLONG MENOLONG & TIDAK MENGAMBIL YANG BUKAN HAKNYA



Midrash Ulangan 22:1-4

Sebagai orang Kristen kita mengenal istilah “Sepuluh Perintah Tuhan” atau yang sering disebut dengan “Aseret ha Debarot” atau “Ten Commandement” yang merujuk pada Keluaran 20:1-17. Sepuluh perintah ini diberikan Tuhan YHWH di Sinai kepada Musa untuk diteruskan kepada Bangsa Israel.

Rabbi Moshe Maimonides (1135-1204) dalam bukunya Misney Torah menghitung bahwa jumlah keseluruhan perintah YHWH dalam Kitab Torah dari Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat, Kitab Ulangan serta Kitab Bilangan berjumlah 613 yang terbagi dalam 365 perintah yang bersifat negatif (ditandai dengan bentuk larangan atau “lo taasheh” -janganlah) dan 248 perintah yang bersifat positip (ditandai dengan bentuk anjuran atau “taasheh” - lakukanlah).

Saturday, October 5, 2013

GURITA KORUPSI DI LEMBAGA KONSTITUSI




Belum tuntas kasus mega korupsi yang ditangani KPK seperti kasus korupsi Simulator yang melibatkan perwira Irjen Djoko Susilo dan kasus-kasus lainnya seperti korupsi Wisma Atlet dan Hambalang, publik kembali dikejutkan dengan kasus besar yang dibongkar KPK dengan tertangkapnya Akil Mochtar yang baru beberapa bulan ditetapkan sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi. Dalam operasi tangkap tangan tersebut, KPK berhasil menyita sejumlah uang yang diterima Akil Mochtar senilai 22.000 Dolar Singgapura yang nilainya setara dengan 3 Miliar (KPK Tangkap Ketua MK, Kompas 3 Oktober 2013, hal 1). Kita menunggu hasil persidangan untuk membuktikan apakah Ketua Mahkamah Konstitusi terbukti melakukan pelanggaran hukum.

Peristiwa penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dapat dimaknai dari tiga perspektif yaitu Hukum, Sosiologis, Teologis. Dari perspektif hukum, penangkapan Akil Mochtar menunjukkan paradox hukum. Pertama, delegitimasi MK sebagai lembaga yang memberi keputusan final terhadap sengketa-sengketa hukum lembaga negara. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Adnan Pandu Praja mengatakan bahwa tindakan Akil Mochtar telah merobohkan pilar konstitusi dengan tindakan korupsi yang dilakukannya (Pilar Konstitusi Roboh, Kompas 4 Oktober 2013). Kepercayaan masyarakat terhadap validitas Mahkamah Konstitusi yang semula meningkat melalui dua mantan pimpinannya yaitu Jimly Ashidique dan Mahfud M.D. saat ini mengalami delegitimasi kepercayaan. Tidak Heran jika Mahfud M.D. mengatakan, MK saat ini mengalami gempa bumi dan kehancuran (KPK Tangkap Ketua MK, Kebumen Ekspres 3 Oktober hal 7) . Kedua, upaya masyarakat untuk meraih kembali kewibawaan hukum melalui kerja keras KPK. Notabene saat ini lembaga yang paling dipercaya adalah KPK setelah semua istitusi kenegaraan lainnya terjerat gurita korupsi. Bahkan kepolisian dan kehakiman pun tidak luput dari gurita korupsi. Belum lama ini laporan yang mengatakan bahwa DPR adalah lembaga terkorup pun semakin mengecilkan kepercayaan masyarakat akan tegaknya hukum di republik ini. Inilah paradox yang saat ini terjadi di depan mata kita: Semakin menurunnya kepercayaan publik terhadap kredibilitas lembaga hukum namun sekaligus harapan untuk menegakkan kewibawaan hukum.

Thursday, September 12, 2013

KEMATIAN YESUS SEBAGAI KORBAN PENDAMAIAN



 

Midrash 1 Yohanes 2:1-6 (Nats: 1 Yoh 2:1-2)


Perayaan Yom Kippur menunjuk pada pendamaian dosa-dosa kolektif Bangsa Yisrael terhadap YHWH dengan penyembelihan hewan setahun sekali. Dalam Perjanjian Baru menunjuk pada karya Yesus sebagai korban pendamaian sejati. Nilai karya Mesianis Yesus yaitu kewafatan di kayu salib memiliki aspek ganda yang berkaitan dengan dua perayaan dari tujuh hari raya yaitu Pesakh (Paskah) dan Yom Kippur (Hari Pendamaian).

Berikut ini karakteristik dari perayaan Yom Kippur menurut Barney Kasdan dalam bukunya God’s Appointed Time: A Practical Guide for Undestanding and Celebrating the Biblical Holiday, sbb: Berdasarkan Imamat 16, ritual Yom Kippur berpusat pada persembahan dua korban kambing. Yang satu dinamai dengan Khatat yang akan disembelih sebagai lampang penghapusan dosa Yisrael. Sementara kambing yang satu diberi nama Azazel. Kambing ini tidak disembelih namun dibuang ke hutan dan ditandai kain merah kesumba. Kambing ini sebagai lambang dosa Yisrael yang dibuang. Ritual di atas merupakan ketetapan Tuhan yang agung, yaitu mengenai penebusan dan pengampunan melalui korban pengganti. Karena Rosh ha Shanah dan Yom Kippur berdekatan dalam berjarak sepuluh hari, maka perayaan Yom Kippur menjadi sangat penting. Apa yang telah dimulai pada bulan Tishri sebagai evaluasi diri dan pertobatan maka pada hari kesepuluh digenapi dengan penebusan dan pengampunan. Sejak Bait Suci (Bet ha Miqdash) di Yerusalem hancur pada tahun 70 Ms. Maka muncul kebingungan diantara para rabbi, mengenai bagaimana pelaksanaan korban Yom Kippur yang berpusat di Bait Suci. Pada perkembangannya para rabbi membuat korban pengganti melalui Tseloshah Taw atau “TIGA T” yaitu: Tefilah(doa), Tsedaqah (perbuatan baik, derma) dan Teshuvah (pertobatan).

Wednesday, September 4, 2013

HIDUP MENGHASILKAN BUAH-BUAH PERTOBATAN



Midrash Lukas 3:1-22 (Nats: Luk 3:8)


Ketika kita membaca pernyataan berikut, “Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene, pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Tuhan kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun” (Luk 3:1-2), kita hanya mendapatkan latar belakang sosial politik ketika Yohanes melaksanakan tugas mempersiapkan kedatangan Mesias.

Dapatkah kita mendapatkan keterangan mengenai latar belakang munculnya pernyataan dan kotbah Yohanes Pembaptis sbb: “Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Tuhan akan mengampuni dosamu, seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk YHWH, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari YHWH” (Luk 3:3-6).

Pernyataan Yohanes di atas dapat kita telusuri dengan melacak jejak dan latar belakang keagamaan orang Yahudi yaitu Yudaisme yang mengalami perjalanan panjang hingga mencapai bentuk modernya saat ini. Apakah Yudaisme dan mengapa Yudaisme?

Thursday, August 8, 2013

MENJADI KUDUS DALAM SEGALA ASPEK KEHIDUPAN



Midrash Shabat, 1 Petrus 1:1-25
Nats 1 Petrus 1:15


MAKNA KEKUDUSAN

Berbicara mengenai kekudusan bagi segolongan orang dianggap sebagai sebuah pola hidup yang steril dan ekslusif, baik dalam pergaulan dan hal-hal yang berkaitan dunia sekelilingnya. Ada yang mengartikan kekudusan dengan tidak boleh menggunakan assesoris dan bersolek, ada yang mengartikan kekudusan dengan tidak boleh menonton tayangan ini dan itu. Sementara dilain pihak ada yang mengartikan kekudusan sebagai sebuah konsep ideal yang mustahil untuk dipenuhi oleh manusia yang berdosa. Bagi orang-orang yang ada di wilayah pemikiran sedemikian, mereka mengartikan kekudusan hanyalah sesuatu yang bisa dikerjakan olehYesus Sang Mesias belaka.

Kedua pandangan mengenai kekudusan di atas, mewakili pemahaman ekstrim yang terjadi dalam Kekristenan. Apakah kedua pandangan tersebut firmaniah? Kita akan menyelidiki terlebih dahulu kata “kudus” yang berasal dari bahasa Ibrani “Qadosh” dari akar kata “Qadash” yang artinya “dipisahkan” atau “disendirikan” atau “dikhususkan”.

Dalam Kitab Suci kata “Qadash” muncul dibeberapa tempat dalam pengertian sbb:

Tuesday, August 6, 2013

BOLEHKAH BERCERAI?




Tuhan YHWH telah menetapkan pernikahan sebagai lembaga kudus dimana seorang lelaki dan seorang perempuan memiliki ikatan. Pernikahan bukan sekedar hubungan seksual lelaki dan perempuan melainkan sebuah lembaga spiritual yang ditetapkan Tuhan sebagaimana dikatakan, “al ken ya’azav ish et aviw we et immo wedavaq beishtto lehayu lebasyar ekhad"  (Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging – Kej 2:24).

Namun dalam perjalanan hidup, ternyata pernikahan tidak selalu berjalan dengan baik dan lancar. Ada berbagai persoalan yang dapat merusak kehidupan pernikahan seperti perzinahan, kekerasan fisik dalam keluarga, penelantaran atau pengabaian pemenuhan kebutuhan biologis dan kebutuhan psikis serta ekonomi. Apa yang harus dikerjakan ketika terjadi hal-hal tersebut di atas.