Friday, April 27, 2018

ORANG BERDOSA

Siapa yang dimaksudkan dengan “orang berdosa” dalam kalimat, “...banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya” (Mrk 2:15)? TaNaKh berulang kali menyebut istilah “orang berdosa” (khataim, Mzm 1:1; 51:15, Ams 23:17, Pengk 8:12).
Orang-orang berdosa tentu saja mereka yang dikategorikan melakukan pelanggaran Torah dan menyimpang dari nilai serta moral yang telah ditetapkan untuk dipatuhi. Bisa jadi mereka penjudi, perampok, pemabuk, pezinah, penipu.

Dalam konteks Kitab Perjanjian Baru, orang-orang Farisi mengategorikan para pemungut cukai termasuk orang-orang berdosa (hamartoloi, Luk 19:7). Sangat umum terjadi bahwa penyelewengan merajalela di rumah cukai, seperti misalnya penindasan, pemaksaan, dan suap atau pemerasan, serta pemfitnahan (Luk 3:13-14).
Pemungut cukai yang setia dan adil begitu jarang didapati, bahkan di Roma, sehingga Sabinus yang berhasil menjaga nama baiknya di rumah cukai, diberikan penghormatan setelah kematiannya dengan prasasti yang berbunyi, Kalōs telōnēsanti (Di sini terbaring seorang pemungut cukai yang jujur).
Sebab orang Yahudi memiliki kebencian khusus terhadap pemungut cukai dan rumah cukai, yang bagi mereka merupakan penghinaan atas kebebasan bangsa mereka dan tanda perbudakan mereka, dan oleh karenanya mereka melontarkan nama buruk ke atas pemungut cukai, serta menganggap sebagai kejahatan besar bila terlihat berada bersama mereka. Namun Yesus kerap kali kedapatan berada di antara mereka, baik dalam sebuah percakapan maupun makan bersama mereka (Mrk 2:16, Luk 7:37).
Namun apa yang dilakukan Yesus bukan sebuah tindakkan untuk berkompromi dan membiarkan dosa merajalela dalam kehidupan seseorang melainkan untuk memperlakukan mereka sebagai manusia yang butuh perhatian, sentuhan, penghormatan. Lebih dari itu semua, Yesus memiliki misi/tujuan yaitu untuk mengeluarkan mereka dari perbudakan dosa dan memasuki kehidupan yang wajar sesuai sabda Tuhan.
Itulah sebabnya saat Yesus dituduh “makan dengan orang berdosa” oleh orang-orang Farisi, beliau berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk 2:17). Kesucian dan kesalehan yang kita pelihara bukan untuk menjauhkan kita dari hubungan sosial dengan orang berdosa. Sebaliknya agar kita memahami dunia mereka dan membagi kasih-Nya.

No comments:

Post a Comment