Tuesday, November 6, 2012

A-NOMOS



Matius 7:22-23 mengatakan: “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuan, Tuan (Yun: Kurie, Kurie), bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan (Anomos)!

Mengapa Yesus mengatakan tidak mengenal mereka yang telah melakukan sebagaimana yang Dia perintahkan yaitu mengusir setan, bernubuat dan melakukan penyembuhan? Bukan hanya tidak mengenal melainkan Yesus mengatakan bahwa mereka “pembuat kejahatan?” Karena mereka sekalipun melakukan apa yang diperintahkan namun mereka tidak memiliki hubungan yang benar dengan Yahweh Bapa Surgawi dan Yesus Sang Mesias. Karena mereka tidak memiliki hubungan yang benar maka mereka tidak mengetahui kehendak Bapa dan tidak melakukan kehendak Bapa sebagaimana dikatakan dalam Matius 7:21 sbb: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuan, Tuan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga
Apakah kehendak Bapa di Sorga itu? Untuk menemukan apa kehendak Bapa dalam konteks ayat ini, kita kembali kepada kata “pembuat kejahatan” yang merupakan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia. Kata ini dalam bahasa Yunaninya dipergunakan kata ανομιαν (Anomian) dari kata A-NOMOS.

Kata NOMOS dalam Septuaginta (TaNaKh atau lazim disebut sebagai Kitab Perjanjian lama terjemahan bahasa Yunani) dipergunakan untuk menerjemahkan kata TORAH. Kata Yunani NOMOS dapat menunjuk pada Torah dan hukum pada umumnya atau hukum rohani. Baik Kitab PL dan PB menggunakan istilah NOMOS dalam pengertian tersebut.

ISH TAMIM (ORANG YANG TIDAK BERCELA)



Ish Tamim” artinya “Manusia yang Tidak Bercela” atau “Saleh”. Selintas kata atau istilah ini mencerminkan suatu sifat yang ideal dan sukar ditempuh. Namun kita akan mengkaji secara singkat akar kata Tamim kaitannya dengan ayat-ayat lain dalam Kitab Suci, sehingga kit akan mendapatkan gambaran kongkrit makna kata yang terkandung dalam kata Tamim .

Perintah-perintah YHWH di dalam Yesus Sang Mesias tidak ada yang abstrak dan sulit. Perintah-perintah-Nya selalu kongkrit, riil dan dapat dikerjakan oleh umat-Nya. Yang sulit adalah kemauan dan komitmen kita untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya. Dasar pembahasan kita beranjak dari Firman Tuhan mengenai Abraham sbb, “Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka YHWH menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Tuhan Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kejadian 17:1).

Untuk memahami arti kata Ish Tamim, kita akan mengkaji terlebih dahulu kata Tamim dalam Kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) yang lazim disebut oleh Kekristenan dengan Kitab Perjanjian Lama. Kata Tamim muncul dalam TaNaKh namun memiliki pengertian ganda dan tergantung konteks kalimatnya. Jika kata Tamim  dihubungkan dengan binatang, maka bermakna, “tidak memiliki cacat fisik”:

  1. Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing” (Kel 12:5)

  1. Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela. Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya (YHWH) berkenan akan dia” (Im 1:3)

Jika kata Tamim dihubungkan dengan waktu, maka akan bermakna, “putaran waktu penuh sebagaimana dikatakan Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh” (Yos 10:13)

Jika kata Tamim dihubungkan dengan benda yang setara, maka bermakna “kembar” atau “pasangan”:“Kedua papan itu kembar pasaknya di sebelah bawah dan seperti itu juga kembar pasaknya di sebelah atas, di dekat gelang yang satu itu, demikianlah dibuat orang dengan kedua papan yang untuk kedua sudutnya itu” (Kel 36:29)

Jika kata Tamim dihubungkan  dengan perilaku manusia, maka maknannya dapat berarti “saleh”, “tidak bercela”, “sempurna”:

  1. Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Tuhan)dan menjauhi kejahatan” (Ayb 1:1).

  1. Adapun Tuhan jalan-Nya sempurna; janji YHWH adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mzm 18:31)

  1. Aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan” (Mzm 18:24)

Monday, October 29, 2012

NEPHILIM, NUH DAN PERISTIWA AIR BAH



 Midrash Kitab Kejadian 6:1-22
                                                                         

Kitab Kejadian Pasal 6:1-2 dibuka dengan sebuah kisah bahwa keturunan Adam dan Hawa semakin banyak dan memenuhi bumi (ha adam larov al peney ha adamah). Pada waktu itu, sejumlah putra-putra Tuhan tertarik dengan putri-putri manusia. Dalam teks Ibrani dikatakan, “wayyir’u beney ha Elohim et benot ha Adam ki tovot hennah, wayyiqkhu lahem nashim mi kol asyer bakharu”. Ayat ini menjadi pokok kontroversi di antara para ahli tafsir. Sebagian menafsirkan bahwa yang dimaksud “putra-putra Tuhan” adalah keturunan Seth sementara penafsir lainnya menunjuk pada para malaikat. Yang manakah di antara tafsiran tadi yang paling mendekati maksud teks Kejadian 6:1-2?

Siapakah beney ha Elohim itu? Dalam Kitab TaNaKh maupun Brit Khadasha (Perjanjian Baru) istilah beney ha Elohim menunjuk pada beberapa oknum al:
Malaikat (Ayub 1:6 ; 2:1 ; 38:7, Daniel 3: 25, 28)

Ayub 1:6, “Pada suatu hari datanglah putra-putra Tuhan menghadap Yahweh dan di antara mereka datanglah juga Shatan” (wayehi hayyom wayyavo’u beney ha Elohim lehityatsev al Yahweh wayyavo gam ha Syatan betokam).


Bangsa Israel (Kel 4:22, Ul 14:1)

Keluaran 4:22 “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman Yahweh: Israel ialah Putra-Ku, Putra-Ku yang sulung;” (weamarta el Phar’oh, koh amar Yahweh, beni, bekori Yishrael)

Orang yang takut akan Yahweh sebelum kedatangan Mesias (2 Sam 7:8-14)

2 Samuel 7:8 “Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Dawid: Beginilah firman Yahweh semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel… Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi putra-Ku (yyihye lli beni). Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia”

Orang yang telah mengalami kelahiran baru dan menerima Yahshua sebagai Mesias (Yoh 1:12)

Yohanes 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi putra-putra Tuhan (dalam terjemahan Hebrew New Testament: Banim le Elohim, dan Peshitta Aramaik: D’beniyah D’Elaha), yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;…

Gelar bagi Adam (Luk 3:38)

Ternyata istilah beney ha Elohim memiliki beragam makna. Namun frasa beney ha Elohim yang dilawankan dengan benot ha Adam, menunjukkan suatu PERBEDAAN HAKIKAT DAN KUALITAS di antara mereka. Yang satu berbeda dengan yang lain. Memang benar bahwa istilah beney ha Elohim adalah suatu idiom Hebraik untuk menggambarkan suatu sifat atau karakter tertentu dari orang-orang yang saleh dan mengasihi Yahweh. Namun ketika istilah ini dihadap mukakan dengan istilah benot ha Adam, tentu saja mereka bukan keturunan manusia. Maka dapat dipastikan istilah ini menunjuk pada malaikat.

Putra-putra Tuhan ini melihat bahwa putri-putri keturunan manusia itu sangat cantik (tovot hennah) sehingga mereka mengambilnya menjadi istri (nashim). Bagaimana mungkin malaikat memiliki kecenderungan seksual, padahal dalam Matius 22:30 dikatakan, “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga”? Namun jika kita telaah, ayat ini tidak membicarakan apakah malaikat memiliki jenis kelamin atau tidak namun membicarakan bahwa di hari kebangkitan keadaan manusia seperti malaikat di Sorga, yaitu tidak menikah atau menikahkan. Rasul Paul sendiri menegaskan bahwa setelah manusia mengalami kebangkitan fungsi seksual mereka sebagai lelaki dan perempuan tidak hilang (1 Kor 15:35-38).

Ada dua ayat dalam Kitab Brit Khadasha yang menyatakan bahwa pada zaman lampau ada sekumpulan malaikat yang memberontak dan berbuat dosa sebagaimana dikatakan: “Sebab jikalau Tuhan tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; dan jikalau Tuhan tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik” (2 Ptr 2:4-5). Dan dikatakan pula, “Dan bahwa Dia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar,sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang” (Yud 6-7). Dua ayat di atas menegaskan bahwa malaikat-malaikat melakukan dosa percabulan di masa lampau.

Apa yang terjadi setelah beney ha Elohim mengambil istri beney ha Adam? Dalam Kejadian 6:4 dikatakan, “hannefilim hayu baarets…”. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan “Nefilim” dengan “orang-orang raksasa”. Terjemahan berbahasa Inggris kebanyakan tetap mempertahankan penggunaan kata “Nefilim” ini. Al.,

“The Nephilim were on the earth in those days-and also afterward—when the sons of God went in to the daughters of humans, who bore children to them. These were the heroes that were of old, warriors of renown”[1].

The Nephilim were on the earth in those days-and also afterward—when the sons of God went to the daughters of men and had children by them. They were the heroes of old, men of renown. The New International Version[2]

The Nephilim were on the earth in those days and also later. That was when the sons of God had sexual relations with the daughters of human beings. These women gave birth to children, who became famous and were the mighty warriors of long ago [3]

Septuaginta menerjemahkan “Nefilim” dengan “Gigantes” yang kelak diserap dalam bahasa Inggris menjadi “Gyant” yang artinya “Raksasa”. “Nefilim” sebagai hasil keturunan malaikat dan manusia disebut orang dengan “haggiborim asyer me’olam(orang-orang perkasa di zaman lampau) dan “Anshey hashem(orang kenamaan).

Kejadian 6:5-7 melaporkan bahwa manusia semakin mengalami kemerosotan moral dan spiritual. Kecenderungan ini diungkapkan dalam bahasa Ibrani, “ki rabah ra’at ha Adam baarets…”. Kerusakan moral ini tentunya ada kaitannya dengan keberadaan Nefilim sebagai hasil perkawinan beney ha Elohim dan beney ha Adam. Kejahatan manusia ini mengecewakan hati Yahweh. Dalam bahasa Ibrani dikatakan, “wayinnakhem Yahweh ki asyah et ha Adam baarets…”. Kata “yinakhem” merupakan bentuk orang ketiga tunggal dari kata “nakham” yang dapat diterjemahkan “menghibur” (Kej 24:67; 38:12; 50:21) namun juga dapat berarti “kekecewaan” (Kej 6:6) “penyesalan” (Kel 32:14), “menuntun” (Mzm 78:14, 53).

Kata “menyesal” atau “kecewa” yang dihubungkan dengan Yahweh, merupakan bentuk “anthrophomorphisme” (bertindak seolah-olah seperti manusia) untuk menggambarkan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam karena ciptaan-Nya telah menyimpang dari apa yang telah ditetapkan-Nya. Seperti seorang Ayah atau Ibu kecewa terhadap perilaku anak-anak yang memberontak dan mempermalukan orang tuannya dengan perbuatannya yang buruk, demikianlah Yahweh terhadap ciptaan-Nya. Namun kekecewaan Yahweh ini berbeda kualitas dengan kekecewaan manusia. Kekecewaan Yahweh merupakan kekecewaan yang bersifat metafisik sebagaimana dikatakan dalam Mazmur 106:45, “Dia ingat akan perjanjian-Nya karena mereka, dan menyesal (wayyinakhem) sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar”.

Monday, October 8, 2012

APAKAH DUNIA AKAN BERAKHIR TAHUN 2012? ANTARA HARAPAN PROFETIS KERAJAAN MILENIUM DAN KEGELISAHAAN MENGENAI AKHIR DUNIA



Bacaan Kitab Suci:
Yesaya 65:20-25, Zakharia 14:9,16, Wahyu 20:11-15

Pdt. Teguh Hindarto, MTh.

7 Oktober 2012, Pendopo Hotel Prambanan Indah, Klaten


Latar Belakang Kegelisahan Mengenai Akhir Dunia

Mark Hitchchok dalam bukunya yang berjudul 2012: The Bible and the End of the World (2009, p.102) mengatakan sbb, “The oldest surviving prediction of the world’s imminent demise was found inscribed upon an Assyrian clay tablet which stated, ‘Our earth is degenerated in these latter days. There are signs that the world is speedily coming to end. Bribery and corruption are common[1] (Ramalan tertua yang masih bertahan perihal kehancuran dunia yang semakin mendekat telah ditemukan tertulis dalam lembaran tanah liat bangsa Assiria yang menyatakan bahwa dunia kita mengalami kemerosotan di akhir zaman. Ada sejumlah tanda-tanda bahwa dunia sedang menuju ambang kemusnahannya. Perilaku menyuap dan korupsi merajalela). Benarkah dunia saat ini sedang dalam ambang kemusnahan? Benarkah berbagai prediksi yang menghubungkan tahun 2012 sebagai  akhir dunia? Apakah berbagai bencana alam yang bersifat massiv (besar-besaran) dan global akhir-akhir ini memberikan petunjuk perihal akhir dunia?

Berkaitan dengan prediksi tahun 2012 sebagai akhir dunia, didasarkan pada ramalan bangsa Maya kuno. Bangsa Maya kuno berpusat di Amerika Tengah dan puncak kejayaan peradaban mereka adalah disekitar tahun 250 sampai 900 Ms. Imam-imam bangsa Maya menemukan sistem kalender yang dihubungkan dengan pengamatan astronomis dan yang dipercaya oleh beberapa orang lebih akurat dibandingkan kalender yang kita pergunakan sekarang ini. Meskipun demikian mereka sama sekali tidak mempergunakan alat-alat modern seperti teleskop dan cukup hanya dengan mempergunakan mata telanjang untuk mempelajari langit.

Seperti apakah kalender bangsa Maya itu? Mereka mendasarkan pada penyelidikan astronomis dan menciptakan sistem kalender yang merancang sejarah yang diawali dengan permulaan dunia pada tanggal 11 Agustus 3114 sM. Dengan mempergunakan sistem kalender matahari, bangsa Maya mengukur waktu dalam 20 unit. Sebanyak 20 kin (hari) mengasilkan winal (bulan); 18 winal menghasilkan tun (tahun); 20 tun menghasilkan katun (20 tahun) dan 20 katun menghasilkan baktun (400 tahun). Untuk memastikan kapan dunia berakhir, mereka menghitung dari awal penciptaan dan mencatat telah berapa lama waktu berjalan. Dengan berbagai kalkulasi rumit dari tahun ke tahun dari sejak awalnya penciptaan, mereka menemukan bahwa dunia akan berakhir pada 13 baktun (5200 tahun).

Dan jika dikomparasikan (diperbandingkan) ke dalam kalender Gregorian maka dunia akan berakhir pada tanggal 21-12-2012 sebagaimana dikatakan oleh Raymond Hundley dalam bukunya berjudul Will the World End in 2012? (2010, p. 7-8) Sbb, “Translating the Mayan calendar date into the Gregorian calendar system used today produces a date of December 21, 2012 as the end-date for the present age[2] (menerjemahkan kalender bangsa Maya ke dalam sistem kalender Gregorian yang kita pergunakan saat ini, maka dihasilkan angka 21 Desember 2012).

Minat bangsa Maya terhadap penghitungan waktu terlihat dalam kenyataan bahwa mereka mengembangkan 20 sistem kalender yang berbeda dan tiga diantaranya dijadikan rujukan oleh bangsa Maya dimana salah satunya yang berisikan predikisi dunia akan berakhir pada tahun 2012 dan dari kalender ini berasal kepercayaan bahwa dunia akan berakhir pada tahun 2012 (Mark Hitchchok, p.32-33)[3].

Kitab Suci TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru pun memprediksikan hal yang sama. Bedanya, Kitab Suci tidak memberikan kepastian perihal tanggal, hari, bulan maupun tahunnya. Sabda Yesus Sang Mesias sbb, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar” (Mat 24:42-43).

Apa kaitan tema perayaan Pondok Daun (Sukot) kali ini dengan berbagai ramalan mengenai kiamat 2012?

Trilogi Tujuh Hari Raya YHWH

Di Sinai YHWH memberikan Torah. Dalam Torah, YHWH menetapkan Moedim (waktu-waktu yang tetap) atau hari-hari raya yang berjumlah tujuh (sheva moedim). Ketujuh perayaan tersebut adalah (Imamat 23:1-44) sbb:

  1. Pesakh (14 Nisan)
  2. Ha Matsah (15 Nisan)
  3. Sfirat ha Omer (menghitung omer setelah shabat moedim)
  4. Shavuot (hari kelimapuluh setelah menghitung omer)
  5. Yom Truah /Rosh ha Shanah (1 Tishri)
  6. Yom Kippur (10 Tishri)
  7. Sukkot (15-21 Tishri)

Tujuh Hari Raya memiliki tiga pemahaman utama sbb: Pertama, Perayaan Historis. Merayakan tindakan YHWH terhadap umat Israel sejak pembebasan Mesir, penyertaan di padang gurun serta memasuki tanah perjanjian.

Kedua, Perayaan Kristologis/Mesianis. Merayakan tindakan Yesus Sang Mesias sebagai wujud sejati yang nubuat karya Mesianisnya terekam dalam Tujuh Hari Raya YHWH. Rasul Paul berkata dalam Kolose 1:15-16 sbb: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Mesias”. Ayat ini bukan larangan agar orang Kristen melaksanakan perayaan yang ditetapkan oleh YHWH di Sinai namun perihal larangan agar jemaat Mesias non Yahudi jangan membiarkan diri mereka dihakimi oleh beberapa kelompok mazhab Yahudi yang menekankan praktek legalistik dalam pelaksanaan Torah yang dipaksakan terhadap jemaat non Yahudi sebagaimana DR. David Stern menjelaskan sbb: “But here it appears that Gentile Judaizers, perhaps like those in Corinth who put themselves ‘in subjection to a legalistic perversion of the Torah (1 C 9:20b&N), have set up arbitrary rules (Shaul brings examples at v.21) about when and how to eat and drink, in order to ‘take ...captive’(v.8) their fellow Collosian[4] (Namun di sini nampaknya orang-orang non Yahudi yang di yahudisasi, seperti di Korintus yang meletakkan pada diri mereka dalam ketaatan kepada pelaksanaan Torah yang legalistik (1 Kor 9:20) harus membebaskan diri dari aturan-aturan dangkal (Shaul memberikan contoh pada ayat 21) mengenai kapan dan bagaimana makan dan minum agar menjadikan... tawanan).

Pernyataan Rasul Paul memberikan pemahaman bahwa perayaan yang ditetapkan YHWH di Sinai merupakan bayangan yang wujud nyatanya adalah Mesias. Barney Kasdan memberikan penjelasan mengenai relevansi Tujuh Hari Raya bagi kehidupan iman pengikut Mesias sbb: “The Feast of the Lord or the biblical holy days, teach us about the nature of God and his plan for mankind...in short, all of the Feast of the Lord were given to Israel and to grafted-in believer to teach, in practical way, more about God and his plan for the world[5] (Hari Raya YHWH atau Hari Raya Biblikal mengajar kita mengenai sifat Tuhan dan rencana-Nya bagi umat manusia...singkatnya semua Hari Raya YHWH telah diberikan bagi Israel dan orang beriman yang ditempelkan untuk belajar dalam cara yang sederhanan mengenai Tuhan dan rencananya bagi dunia).

Jika kita membaca Kitab Perjanjian Baru, baik Mesias maupun para rasul memberikan makna baru terhadap Tujuh Hari Raya yang menunjuk kepada kehidupan, kematian, kebangkitan Yesus dari kematian. Simak saja ayat-ayat berikut:

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20).

Rasul Paul menegaskan kembali makna Pesakh dan pengorbanan Yesus di kayu salib dengan mengatakan demikian: “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Mesias” (2 Kor 5:17).

Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (1 Kor 5:8)

Tetapi yang benar ialah, bahwa Mesias telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Kor 15:20)

Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Mesias sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (1 Kor 15:23)

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis 2:1-4)

Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Tuha) berbunyi, maka Junjungan Agung sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Mesias akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Junjungan Agung di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Junjungan Agung. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini (1 Tesalonika 4:16-18)

Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh 2:2)

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Tuhan, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Tuhan ada di tengah-tengah manusia dan Dia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Tuhan mereka (Wahyu 21:1-3)

Ketiga, Perayaan Eskatologis. Merayakan apa yang akan terjadi atas dunia sebagai panggung penggenapan rancangan Tuhan. Tiga hari raya yaitu Rosh ha Shanah/Yom Truah dan Yom Kippur serta Sukkot berbicara mengenai peristiwa-peristiwa yang akan datang berkaitan dengan nasib dunia serta alam semesta.

Dalam tradisi lisan dan tertulis Yahudi yang disebut Talmud, bertebaran berbagai pandangan mengenai ketiga hari raya tersebut dihubungkan dengan kebangkitan orang mati, kedatangan Mesias dan akhir zaman. Rosh ha Shanah bukan hanya dirayakan sebagai Tahun Baru Ibrani melainkan hari kebangkitan dan penghakiman. Yom Kippur dirayakan sebagai hari Pengakuan Dosa dan Pengampunan serta Pengadilan Tuhan. Sukkot bukan sekedar merayakan penyertaan YHWH di padang gurun melalui kemuliaan-Nya yang berdiam di Kemah Suci melainkan diyakini sebagai hari dimana langit dan bumi yang baru akan terjadi di dunia yang telah hancur musnah. Tuhan YHWH akan berkemah dan menjadi Raja bagi orang-orang benar.

Saturday, September 15, 2012

PREDESTINASI TERHADAP ORANG YANG BERIMAN PADA YESUS SEBAGAI MESIAS ANAK TUHAN




YHWH telah memiliki RENCANA (zamam, yatsar, Ibr) dalam kekekalan mengenai penciptaan dunia, baik fisik maupun metafisik dan, penciptaan manusia, hewan, tumbuhan, organisme lainnya. Ketika YHWH menciptakan dunia, Dia memberikan identifikasi BAIK terhadap seluruh  ciptaan-Nya, bahkan amat baik (Kej 1:4,10,12,18,21,25,31)

Tujuan Penciptaan Alama Semesta dan Manusia

Mencerminkan kemuliaan YHWH

Langit menceritakan kemuliaan Tuhan, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:2)

Mencerminkan kekuasaan YHWH (Mzm 50:6)

Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Tuhan sendirilah Hakim. S e l a” (Mzm 50:6)

Menjadi mandataris YHWH (Kej 1:27-28)

Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:27-28)

Dosa Mencemari Rencana Tuhan

Apakah YHWH menciptakan adanya dosa? Tidak! Dosa adalah pelanggaran terhadap Hukum YHWH oleh manusia. Jika YHWH menciptakan dosa, berarti dalam diri YHWH ada dosa dan ini tidak mungkin

Apakah YHWH bertanggung jawab terhadap kejatuhan manusia dalam dosa?
    2
 
Tidak! YHWH sudah memberi peringatan kepada manusia sebelumnya. Kejatuhan adalah tanggung jawab manusia. Namun semua yang terjadi atas sepengetahuan dan seijin YHWH

Mengapa YHWH mengijinkan kejatuhan manusia dalam dosa? YHWH, dalam Kemaha tahuanNya, telah melihat bahwa manusia akan memberontak terhadap diriNya. Dalam KemahatahuanNya, YHWH telah MERENCANAKAN untuk memulihkan, menyelamatkan, menebus ciptaan (dunia dan manusia)

Predestinasi YHWH

Sebelum langit dan bumi serta manusia diciptakan, YHWH telah melakukan beberapa karya sbb:

Menetapkan, merencanakan untuk menebus ciptaan

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas” (1 Ptr 1:18)

Menetapkan, merencanakan untuk memanggil manusia dalam rencana penyelamatan

Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Mesias” (Rm 1:6)

Menetapkan, merencanakan untuk memilih manusia dalam rencaana penyelamatan

Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya” (1 Ptr 1:20)

Rencana kekalNya yang telah disusun sebelum dunia tercipta, dikarenakan Dia mengetahui kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Dia merencanaakan pemulihan seperti semula

Arti Pemilihan YHWH Terhadap Manusia

Pemilihan dilakukan berdasarkan KASIH KARUNIA dan kemurahanNya. YHWH mengaruniakan keselamatan dan hidup kekal sebagaimana dikatakan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan” (Ef 2:8)

Dan juga dikatakan, “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya” (Rm 9:18)

Apakah jika seseorang telah dipilih/dipanggil sebelum langit dan bumi tercipta, berarti dia telah tercatat di Sorga dan tidak mungkin kehilangan keselamatan? Golongan Calvinis sangat percaya perihal doktrin “sekali selamat tetap selamat”.

Yohanes Calvin merumuskan suatu ajaran yang dikenal oleh kalangan Calvinisme sebagai Dotrin Predestinasi atau Ketetapan Tuhan. Rev. Gregory S. Neal mendefinisikan Predestinasi sbb, “Predestination is the doctrine which attempts to describe justification as the decision and act of God alone--an act based upon no external determinants, but only on God's own, divine decision. Additionally, it is held that those who are not elected to salvation are, through Divine will, elected to damnation. In this, 'double predestination' is, in fact, accepted. God elects people to both redemption and to reprobation[1](Predestinasi adalah doktrin yang mencoba untuk menggambarkan pembenaran sebagai keputusan dan tindakan Tuhan sendiri - sebuah tindakan yang tidak berdasarkan faktor-faktor penentu eksternal, tapi hanya pada keputusan Ilahi dari Tuhan sendiri. Selain itu  dinyatakan bahwa mereka yang tidak terpilih untuk keselamatan terpilih untuk menerima hukuman. Dalam hal ini,predestinasi ganda pada kenyataannya, diterima. Disatu sisi Tuhan  memilih orang baik untuk penebusan maupun untuk kutukan).

Rumusan doktrin itu diringkaskan dalam bentuk akrostik TULIP sbb:

T    - Total Depravity (Kerusakan Total)
U   - Unconditional Election (Pemilihan Tak Bersyarat)
L    - Limited Atonement (Penebusan yang Terbatas)
I     - Irresistible Grace (Anugrah yang Tidak Dapat Ditolak)
P    - Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang  Kudus)[2]

Benarkah pemahaman “sekali selamat tetap selamat?” Tanpa menampik pemahaman yang brilian dari Yohanes Calvin namun terhadap pemahaman yang satu ini, saya tidak sependapat. Keselamatan bisa hilang jika kita tidak menjaganya dengan kesungguhan.

Bangsa Israel sebagai bangsa pilihanpun dapat/berpotensi untuk memberontak dan kehilangan kemurahan YHWH sebagaimana dikatakan: “Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: "YHWH, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?" Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Mesias. Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: "Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi."  Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya? Pertama-tama Musa berkata: "Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal."Dan dengan berani Yesaya mengatakan: "Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak menc ari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku." Tetapi tentang Israel ia berkata: "Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah. (Rm 10:16-21)

Rasul Paul mengingatkan bahwa keselamatan dan kehidupan kekal membutuhkan kondisi tertentu keteguhan pada keyakinan tersebut sebagaimana dikatakan: “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Mesias, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula” (Ibr 3:14)

Bahkan sabda Yesus memberikan penegasan perihal orang-orang tertentu yang akan dihapus dari Kitab Kehidupan yaitu mereka yang tidak berjuang mempertahankan iman sampai penghabisan dan murtad dari Tuhan sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya(Why 3:5).

Apakah Predestinasi bermakna bahwa YHWH telah menetapkan sebagian orang binasa dan sebagian orang memperoleh hidup kekal? Dimanakah letak keadilan YHWH? Pertama, Itu bertentangan dengan karakter Yahweh yang menghendaki pertobatan orang berdosa sebagaimana dikatakan, “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan YHWH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehz 33:11).

Monday, September 10, 2012

BAGAIMANA NASIB ORANG KRISTEN YANG MATI BUNUH DIRI?



Kitab TaNaKh (Torah – Neviim – Ketuvim) maupun Kitab Perjanjian Baru tidak memberikan penjelasan mengenai bagaimana hukumnya orang yang melakukan bunuh diri. Bagaimana kita dapat melakukan penilaian dosa dan tidaknya kematian dengan cara bunuh diri jika Kitab Suci tidak memberikan aturan yang jelas? Bagaimana pula sikap kita dalam memperlakukan orang yang mati dengan cara bunuh diri?

Pandangan Yudaisme dan Kekristenan Terhadap Bunuh Diri

Yudaisme memandang tindakan bunuh diri sebagai dosa yang besar (grave sin) dan dosa yang keji (heinous sin), dosa yang serius (serious sin)[1]. Referensi Talmud mengenai kasus bunuh diri terdapat dalam Bava Kama 91b yang memberikan penafsiran terhadap Kejadian 9:5, “Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia”. Dengan kata lain, Tuhan akan menuntut atas darah kita yang ditumpahkan oleh kita sendiri[2].

Yudaisme sendiri membedakan antara tindakan bunuh diri didasarkan kondisi mental yang sadar sepenuhnya (sound mind: lada’at) dan yang tidak sadar sepenuhnya/gila (unsound mind: she lo lada’at). Mereka yang naik ke atas pohon atau bangunan lalu mengalami kecelakaan tentu saja tidak dikategorikan bunuh diri dalam keadaan yang sadar. Sementara mereka yang naik ke atas bangunan atau pohon yang tinggi dan menyatakan pada semua orang bahwa dia akan melompat dan menjatuhkan dirinya lalu mati maka mereka terkategori melakukan bunuh diri dalam sebuah kesadaran[3].

Rabbi Moshe Maimonides yang hidup pada Abad 13 Ms menuliskan dalam Rotzeah, 2.2-3 bahwa “tidak ada (hukuman) kematian di persidangan” bagi yang melakukan bunuh diri melainkan “(hukuman) kematian oleh surga”. Pernyataan ini membuat teka-teki namun beberapa panafsir mengatakan bahwa ini adalah cara Maimonides untuk mengatakan bahwa mereka yang melakukan bunuh diri tidak akan dapat dituntut dalam pengadilan dunia melainkan pengadilan Tuhan dan mereka dipastikan tidak akan mendapatkan bagian dalam dunia yang akan datang (olam haba)[4]

Perlakuan Terhadap Orang Yang Bunuh Diri

Referensi Paska Talmudik menjelaskan bahwa mereka yang mati dengan cara bunuh diri tidak berhak menerima perlakuan sebagaimana mereka yang mati secara wajar. Tidak ada upacara dan pembacaan doa-doa khusus (YD 345:1; Maim. Yad, Evel 1:11). Beberapa yang lain mengatakan tidak perlu melakukan apapun kecuali mengafani dan menguburkannya (Rashba, Resp., vol. 2, no. 763)[5].

Demikian pula dalam referensi tulisan Bapa Gereja (Church Fathers), sejumlah pemikir seperti Agustinus menggumuli kasus bunuh diri dan menyatakan bahwa itu merupakan salah satu dosa yang tidak terampuni. Dan Gereja Abad Pertengahan melalui tulisan Thomas Aquinas meneruskan pandangan yang serupa tersebut dengan memperlakukan penguburan terhadap mereka yang melakukan bunuh diri, dengan cara yang kurang terhormat dibandingkan mereka yang mengalami kematian secara wajar. Hal berbeda ditunjukkan oleh para Bapak Reformasi. Didasarkan pada penafsiran Matius 12:31 dimana dosa yang tidak terampuni adalah menghujat Roh Kudus, maka baik Luther maupun Calvin menolak mengategorikan bahwa tindakan bunuh diri adalah dosa yang tidak terampuni.[6]

Pandangan Judeochristianity Terhadap Bunuh Diri

Bagaimana Judeochristianity menentukan sikap terhadap kematian dengan cara bunuh diri? Orang yang melakukan bunuh diri, setara dengan orang yang melakukan pembunuhan terhadap orang lain. Torah melarang pembunuhan terhadap orang lain (Kel 20:13) dan seorang pembunuh harus menerima hukuman bunuh (Bil 35:16-20). Maka tindakan bunuh diri, dapat disetarakan dengan tindakan melakukan pembunuhan terhadap orang lain.

Kitab TaNaKh menyitir soal kematian orang fasik yang diidentikan dengan “mati binasa dalam kegelapan” sebagaimana dikatakan dalam 1 Samuel 2:9 sbb: “Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa”. Kitab TaNaKh pun menyitir soal “kematian tanpa hikmat” sebagaimana dikatakan dalam Ayub 4:23 sbb: “Bukankah kemah mereka dicabut? Mereka mati, tetapi tanpa hikmat”. Dengan dalil-dalil di atas, maka orang yang melakukan bunuh diri dapat dikategorikan telah melakukan tindakan yang setara dengan membunuh dan mereka dikategorikan setara dengan orang fasik yang mati dalam kegelapan dan tanpa hikmat.

Kitab TaNaKh memang memberikan informasi perihal sejumlah nama orang yang melakukan tindakan bunuh diri namun dengan motif dan konteks yang berbeda seperti kasus Simson yang merobohkan tiang bangunan orang Filistin untuk membiarkan dirinya mengalami kematian dengan jumlah kematian orang Filistin yang lebih banyak (Hak 16:30). Demikian pula Saul yang menancapkan pedangnya pada tubuhnya (1 Sam. 31:4–5) serta Yudas yang menggantung dirinya setelah menerima uang 30 keping perak sebagai upah pengkhianatan terhadap gurunya (Mat 27:5). Dalam kasus-kasus di atas tidak ada penilaian apapun dalam Kitab TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru mengenai tindakan mereka apakah dinilai salah atau tidak.

Namun dengan melihat kasus dan motifnya, maka baik tulisan para rabbi dalam Talmud maupun para Bapa Gereja sepakat memberikan penilaian positip terhadap tindakan Samson demi menyelamatkan bangsanya dari serangan bangsa Filistin. Demikian pula para rabbi menilai bahwa tindakan Shaul dapat dibenarkan dikarenakan untuk menghindari tindakan ejekan dan hinaan musuh agar menyangkali nama YHWH (khilul ha Shem) dan bukan memuliakan nama YHWH (Kidush ha Shem). Namun tidak demikian dengan sikap Bapa Gereja terhadap apa yang dilakukan Yudas yang dianggap sebagai tindakan berdosa yang serius, sekalipun para Bapak Reformasi memandang tindakan Yudas bukan dosa yang setara dengan dosa yang tidak terampuni.

Friday, July 20, 2012

TAFAKUR DAN MEDITASI DALAM PERSPEKTIF KRISTEN



Seseorang bertanya pada saya, “bolehkah kita bermeditasi? Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita lihat satu kata Ibrani יהגה -   Yehgeh (Bentuk imperfek dari Khaga). Kata Ibrani Yehgeh dibeberapa tempat dan diterjemahkan secara beragam dan dalam beberapa versi terjemahan berbahasa Inggris diterjemahkan denganMeditate (merenungkan). Kita simak sbb:

Merenungkan/Meditate (Mzm 1:1-2)

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Torah YHWH, dan yang merenungkan(yehgeh) Torah itu siang dan malam.”

Melahirkan (Ayb 27:4)

Maka bibirku sungguh-sungguh tidak akan mengucapkan kecurangan, dan lidahku tidak akan melahirkan (yehgeh)tipu daya”

Mengucapkan (Mazmur 37:30)
“Mulut orang benar mengucapkan (yehgeh) hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum”


Mengatakan (Ams 8:7)

“Karena lidahku mengatakan (yehgeh) kebenaran, dan kefasikan adalah kekejian bagi bibirku”

Menimbang (Ams 15:28)

“Hati orang benar menimbang-nimbang (yehgeh) jawabannya, tetapi mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat”

Memikirkan (Ams 24:2, Yes 33:18)

Karena hati mereka memikirkan (yehgeh) penindasan dan bibir mereka membicarakan bencana”

“Dalam hatimu engkau akan memikirkan (yehgeh) kengerian yang sudah-sudah: "Sudah lenyapkah juru hitung, sudah lenyapkah juru timbang, dan sudah lenyapkah orang yang menghitung menara-menara?"

Mengeram (Yes 31:4)

“Sebab beginilah firman YHWH kepadaku: Seperti seekor singa atau singa muda menggeram (yehgeh) untuk mempertahankan mangsanya, dan tidak terkejut mendengar teriakan seluruh pasukan gembala yang dikerahkan melawan dia, dan tidak mengalah terhadap keributan mereka, demikianlah TUHAN semesta alam akan turun berperang untuk mempertahankan gunung Sion dan bukitnya.


Mengaduh (Yer 48:31)
“Sebab itu aku akan meratap karena Moab, akan berteriak karena Moab seluruhnya, dan akan mengaduh (yehgeh)karena orang-orang Kir-Heres!”

Dari aspek kajian bahasa, meditasi artinya aktifitas merenungkan dan memikirkan. Jika dihubungkan dengan Tuhan dan Firman-Nya, maka kita merenungkan, memikirkan, memperkatakan Nama Tuhan dan Firman-Nya. Dalam Teologi Islam aktifitas ini disebut dengan Tafakur dan Tadzakur dari kata Fikr dan Dzikr yang artinya kurang lebih merenungkan, memikirkan Tuhan dan Firman-Nya.

Setiap agama memiliki sistem meditasi. Yang jadi persoalan bukan meditasinya melainkan meditasi manakah yang kita lakukan? Meditasi Budhisme? Meditasi Hinduisme? Meditasi Islam? Meditasi Kristen? Setiap meditasi ada Akidah atauEmunah yang mendasarinya.
Dari perspektif Judeochristianity, kita diperbolehkan melakukan meditasi atau tafakur yaitu meditasi terhadap Nama Tuhan dan Firman-Nya sebagaimana petunjuk dalam Mazmur 1:2.