Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian
(LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar
sosiologi Islam di UIN Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011,
mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan
25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8%
siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah
yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3%
siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom. Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh
Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta,
pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju
tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan
Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju
dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju
dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2%
membenarkan serangan bom (bbc.com).
Sunday, October 9, 2016
SINDROM STOCKHOLM
Sindrom Stockholm adalah respon
psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan
menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan
bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu. Sindrom ini dinamai
berdasarkan kejadian perampokan Sveriges Credit Bank di Stockholm pada tahun
1973. Perampok bank tersebut, Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson, memiliki
senjata dan menyandera karyawan bank dari 23 Agustus sampai 28 Agustus pada
tahun 1973. Ketika akhirnya korban dapat dibebaskan, reaksi mereka malah
memeluk dan mencium para perampok yang telah menyandera mereka. Mereka secara
emosional menjadi menyayangi penyandera, bahkan membela mereka. Sandera yang
bernama Kristin bahkan jatuh cinta dengan salah satu perampok dan membatalkan
pertunangan dengan pacarnya setelah dibebaskan.
Sunday, August 28, 2016
TIGA ASPEK SALIB
Kita mungkin kerap menemui sejumlah perilaku
beragama yang berlebihan saat ada seseorang yang dengan bersemangat melarang
orang Kristen menggunakan lambang salib baik dalam bentuk accecories ataupun hiasan dinding. Alasan naif yang kerap
dilontarkan adalah “itu lambang kehinaan”, “lambang paganisme”, “lambang kutuk”
dll. Orang-orang fanatik tersebut tidak mengerti istilah salib baik secara
historis ,teologis serta simbolis.
Secara historis, istilah salib menunjuk pada
sebuah peristiwa historis dan benda yang dipakai untuk menyulakan seorang
bernama Yesus dari Natzaret di bukit bernama Golgota dengan tuduhan menyamakan
dirinya dengan Tuhan karena menyebut diri-Nya Anak Tuhan dan Mesias. Itulah
sebabnya dikatakan, “Tuhan nenek moyang
kita telah membangkitkan Yesus yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu
bunuh” (Kis 5:30).
Friday, August 26, 2016
APA YANG SALAH DENGAN YUDAS ISKARIOT?
Tahun 2006
terbit dalam bahasa Indonesia buku dengan judul The Gospel of Judas
Dari Kodeks Tchacos oleh Gramedia Pustaka Tama. Buku tersebut hasil
upaya penerjemahan naskah kuno Gnostik oleh Rodolphe Kasser dkk terhadap salah
satu isi naskah yang ada dalam Kodeks Tchacos yang ditemukan pada tahun 1970.
Monday, July 25, 2016
MENOLAK KECERDASAN MEMUJA KEBODOHAN
Jika mengingat peristiwa yang satu ini, bukan saja saya geli tapi
prihatin. Saat saya masih bergiat mengikuti persekutuan kharismatik pada
tahun 90-an saat masih studi strata satu teologi di Yogyakarta. Dalam banyak hal, keterlibatan dalam pemahaman dan kegiatan persekutuan doa sedemikian sangat membantu saya untuk memiliki hubungan yang bersifat personal dan intimasi dengan Tuhan. Namun terkadang ada pemahaman dan perilaku keagamaan yang kadang mengganggu pikiran saya.
Suatu
ketika saat mengikuti persekutuan rutin yang dilaksanakan tiap-tiap hari
jum’at di sebuah kawasan sentra ekonomi bakpia di wilayah Yogyakarta,
saat yang lain sedang menaikkan pujian dalam bentuk nyanyian dan doa,
saya pergi ke kamar kecil untuk buang air kecil. Menurut informasi teman
saat usai persekutuan, saat saya keluar untuk pergi ke kamar kecil, ada
seseorang yang mendoakan dan “menengking roh kepandaian” dalam diri
saya karena saya seorang siswa teologi. Mungkin pikirnya kecerdasan,
kepandaian, rasionalitas, ilmu adalah musuh Tuhan dan para orang
kudusnya.
Sunday, June 5, 2016
APAKAH NAMA “IESOUS” (YESUS DALAM BAHASA YUNANI) BERKAITAN DENGAN NAMA “ZEUS?”
Masih saja ada yang memposting status di media sosial yang menghubungkan nama Yesus dengan nama dewa Zeus bahkan yang lebih ekstrim melakukan "gothak gathuk mathuk" bahwa nama Yesus berhubungan dengan angka Anti Mesias yaitu “666” sebagaimana disebutkan dalam Wahyu 13:18. Supaya komunitas Kristen "Akar Ibrani" dan "Sacred Name" tidak dituding berlebihan dan kurang cerdas, marilah membebaskan diri dari guru-guru dan pengajar eksentrik dengan minus literatur.
Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani menuliskan perihal nama Mesias dalam logat Yunani sbb:
και καλεσεις το ονομα αυτου ιησουν (Iesoun)
"...dan engkau akan menamai Dia Yesus"(Mat 1:21)
Jauh sebelum ada Kitab Perjanjian Baru Yunani ditulis dan nama Mesias dilaporkan dalam Kitab Perjanjian Baru Yunani sebagaimana dituliskan di atas, nama yang dieja Iesous telah dituliskan dalam Kitab Septuaginta (terjemahan Torah dalam bahasa Yunani pada Abad 3 sM) untuk dua nama yaitu Yehoshua (menurut ejaan Masoretik. Ada yang mengeja dengan Yahushua dan Yahshua) dan Yeshua.
Nama Yehoshua disalin Septuaginta sbb:
ויהי אחרי מות משׁה עבד יהוה ויאמר יהוה אל־יהושׁע בן־נון משׁרת משׁה לאמר
"Sesudah Musa hamba YHWH itu mati, berfirmanlah YHWH kepada Yehoshua Ben Nun, abdi Musa itu, demikian:.." (Yos 1:1)
Saturday, April 9, 2016
KEDUANYA MENJADI SATU DAGING
Kotbah Pernikahan:
Kejadian 2:21-25 (Nats ay 24)
Auditorium
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 8 April 2016
Pernikahan, dalam perspektif iman
Kristiani bukan sekedar penetapan secara legitimatif hubungan antara seorang
laki-laki dan perempuan yang telah mengakhiri masa lajangnya melalui sebuah
prosesi dan ritual suci secara gerejawi. Pernikahan bukan sekedar peristiwa
penetapan secara legitimatif oleh negara dimana seorang laki-laki dan seorang
perempuan diikat oleh kewajiban-kewajiban satu sama lain. Lebih dari itu,
pernikahan adalah hubungan yang dikuduskan dan diberkati agar laki-laki dan
perempuan saling melekatkan dan menyatukan diri satu sama lain sebagaimana
dikatakan, על־כן יעזב־אישׁ את־אביו ואת־אמו ודבק באשׁתו והיו לבשׂר אחד “al ken ya’azav ish et aviw we et
immo wedavaq beishto wehayu lebashar ekhad - Sebab itu seorang laki-laki akan
meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya
menjadi satu daging”
(Kej 2:24).
Ada tiga kata kunci penting dalam
ayat ini yaitu, “meninggalkan” (azav),
“melekat” (davaq), “menjadi satu
daging” (bashar ekhad). Ketika
seseorang memutuskan untuk hidup berumah tangga, maka mereka harus menyadari
seutuhnya bahwa mereka akan membangun sebuah kehidupan yang baru dimana mereka
berdualah yang mengelola kehidupan yang baru tersebut. Kehidupan yang baru
tersebut harus diawali dengan “meninggalkan ayah dan ibunya”. Dengan
meninggalkan kedua orang tuanya, kedua pasangan telah mengikrarkan kemandirian
dan kesiapan dirinya memasuki bahtera rumah tangga. Ketika kehidupan yang baru
diikrarkan dalam upacara pernikahan, maka sepasang laki-laki dan perempuan
telah mengikatkan dirinya untuk melekat satu sama lain dan menjadi satu daging.
Kata Ibrani ekhad mengindikasikan
sebuah kesatuan atau unitas. Sepasang
laki-laki dan perempuan yang telah menikah adalah pribadi yang saling
menyatukan pikirannya, kehendaknya, kekuatannya, tekadnya untuk membangun
tujuan yang sama yaitu masa depan yang bahagia.
Subscribe to:
Posts (Atom)






