Saat saya masih kuliah strata satu teologi, saya berkenalan dengan
sebuah kelompok persekutuan doa yang dipimpin oleh salah seorang pemimpinnya
yang kerap melakukan “penginjilan arwah”. Dalil yang dipercayai pemimpin ini
berdasarkan kisah Yeshua turun ke dalam dunia orang maut yang dilaporkan 1
Petrus 3:19-20). Benarkah saat Yeshua wafat tiga hari tiga malam beliau
memberitakan Injil pada mereka yang telah wafat? Kata yang diterjemahkan
“memberitakan Injil”, dalam naskah Yunani, ekeruzen dari akar kata keruzo
yang artinya “mengumumkan”.
Sunday, October 9, 2016
PERHIASAN WANITA
Berbicara mengenai wanita, tentu tidak bisa
dilepaskan dari kecantikkan dan perhiasan yang memperlengkapi kecantikannya.
Tidak mengherankan jika kita melihat penampilan seorang wanita dari kelas
sosial tertentu akan memperlihatkan simbol-simbol statusnya salah satunya
melalui perhiasan yang dikenakannya. Perhiasan, bukan sekedar simbol
pencapapaian prestasi melainkan simbol status sosial seorang wanita. Berhias
dan perhiasan yang melekat dengan citra seorang wanita bukanlah sebuah
kesalahan ataupun kejahatan, namun ada sesuatu yang lebih besar dan lebih
penting dari itu semua adalah adakah para wanita khususnya wanita Kristen telah
memiliki dan mengenakan perhiasan yang bukan “lahiriah” belaka melainkan
perhiasannya adalah “manusia batiniah”. Apakah “perhiasan lahiriah” (exotheen, Yun) itu? “mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan
mengenakan pakaian yang indah-indah” (1 Ptr 3:3).
BERSIMAHARAJELANYA KETIDAKSOPANAN
Seiring maraknya teknologi informasi dalam
bentuk internet yang bisa kita akses bukan hanya di laptop ataupun personal computer di rumah kita
melainkan melalui hand phone, kita kerap dibanjiri dengan berbagai informasi
perihal semakin maraknya perilaku tidak sopan dari masyarakat kita. Ironisnya,
perilaku ketidaksopanan itu bukan hanya diperlihatkan oleh orang-orang yang
tidak terpelajar melainkan orang-orang terpelajar, terdidik bahkan dengan
status sosial yang tinggi dan berpengaruh di mata publik. Kita sudah kenyang
disuguhi informasi perihal pemukulan seorang murid pada gurunya atau kekerasan
orang tua terhadap guru, menghina pemimpin negara dengan gambar dan kalimat
seronok, melecehkan sebuah kebijakkan publik bukan dengan argumentasi logis
melainkan hinaan dan caci maki tanpa bobot argumentasi logis sama sekali,
makian-makian berbau rasialis dan agama yang kerap dipertontonkan pejabat,
politisi, akademisi di muka publik secara verbal tanpa rasa malu dan sungkan.
CYBER BULLYNG
Bagi mereka yang aktif di media sosial
seperti Facebook, Twetter, Whatsap,
Instagram, Line dll pasti tidak asing dengan istilah Cyber Bullyng. Jika ada istilah Real
World dan Real Community maka di
era teknologi informasi dan internet ini ada istilah Cyber World dan Cyber
Community. Namun bukan hanya nilai-nilai yang positip yang dipindahkan ke
dunia maya (cyber world) melainkan kejahatan dan berbagai bentuk perkataan
serta perilaku menyimpang dapat masuk ke dunia maya. Oleh karenanya ada istilah
Cyber Crime (kejahatan dunia maya)
dalam bentuk penipuan, pemalsuan yang merugikan siapapun yang menjadi korban
pelaku kejahatan di dunia maya. Gejala lainnya yang saat ini marak adalah Hate Speech (ujaran kebencian) yang bisa
dimanifestikan secara verbal (melalui kata-kata langsung) atau non verbal
melalui media sosial.
SALAH MEMBACA KITAB SUCI
Ada seorang yang ingin mengetahui kehendak
Tuhan tentang sesuatu hal. Dia mengambil Kitab Suci dan membuka secara
sembarangan serta menjatuhkan jari telunjuknya pada halaman tertentu dengan
mengadaikan bahwa ayat yang ditunjukkan oleh jarinya akan mengatakan kepadanya
apa yang patut diperbuat. Betapa menyedihkan hatinya sebab jarinya menunjuk
pada teks Matius 27:5 yang mengatakan bahwa Yudas keluar dan menggantungkan
diri. Kali ini jari telunjukknya menunjuk pada teks Lukas 10:37 yang berbunyi, “Pergilah dan perbuatlah yang sama”. Ketika
dia mengikuti metode yang sama untuk ketiga kalinya, jarinya jatuh pada teks
Yohanes 13:27 yang berbunyi, “Bergegaslah
dengan apa yang hendak engkau laksanakan!”. Cerita di atas mungkin saja
tidak terjadi secara persis dalam kehidupan keseharian kita namun dalam bentuk
lainnya metode membaca Kitab Suci dengan cara demikian masih banyak terjadi di
kalangan umat Kristen.
TENANGLAH, INI AKU, JANGAN TAKUT!
Malam itu murid-murid Yesus Sang Mesias
terombang-ambing di lautan oleh karena datangnya angin sakal. Mereka
terperangkap dalam ributnya angin yang mempermainkan mereka sehingga mereka
kehilangan orientasi dan kepercayaan diri. Dalam kondisi panik mereka tidak
lagi dapat membedakan obyek-obyek yang mereka lihat dan jumpai di depan mereka.
Demikian pula saat angin sakal menghempaskan perahu mereka, “murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di
atas air, mereka terkejut dan berseru: ‘Itu hantu!’, lalu berteriak-teriak
karena takut” (Mat 14:26). Barulah saat Yesus bersabda, "Tenanglah! Aku ini, jangan
takut!" (Mat 14:27) muncul keberanian dan ketenangan diantara para
murid, walaupun salah satu murid yaitu Petrus masih ingin meyakinkan apa yang
dilihatnya sebagai kebenaran dengan mengajukan bukti agar dapat berjalan di
atas air menghampir Yeshua (Mat 14:28).
WAKTU ARITMETIK DAN WAKTU EKSISTENSIAL
Seorang raja muda dari Timur ingin menjadi
orang baik dan bijaksana serta memerintah rakyatnya menurut kehendak Tuhan. Dia
mengumpulkan semua orang paling bijaksana dari seluruh kerajaan dan
memerintahkan mereka untuk mengumpulkan semua kebijaksanaan ke dalam buku-buku
sehingga dia dapat membaca dan belajar sendiri bagaimana memerintah dengan
baik. Orang-orang bijaksana itu segera memulai pekerjaan raksasa dan sesudah
tiga puluh tahun pekerjaan itu selesai. Satu barisan unta panjang membawa lima
ribu jilid buku berjalan menuju istana. Raja pada saat itu sudah berusia
tengahan dan dipenuhi dengan banyak tugas dan rencana. Dia melihat unta-unta
yang bermuatan itu dan berkata, “Saya
terlalu sibuk untuk membaca begitu banyak buku. Bawa semua buku ini dan
ringkaskan lagi untuk saya”. Pekerjaan meringkaskan memakan waktu lima
belas tahun dan kemudian orang-orang bijaksana itu dengan bangga menghasilkan
lima ratus jilid. Raja itu mengatakan, “Masih
terlalu banyak. Lima puluh cukup”.
Subscribe to:
Posts (Atom)






