Bacaan
Kitab Suci:
Yesaya 65:20-25,
Zakharia 14:9,16, Wahyu 20:11-15
Pdt. Teguh
Hindarto, MTh.
7
Oktober 2012, Pendopo Hotel Prambanan Indah, Klaten
Latar Belakang
Kegelisahan Mengenai Akhir Dunia
Mark Hitchchok dalam bukunya yang berjudul 2012: The Bible and the End of the World (2009, p.102) mengatakan
sbb, “The oldest surviving prediction of
the world’s imminent demise was found inscribed upon an Assyrian clay tablet
which stated, ‘Our earth is degenerated in these latter days. There are signs
that the world is speedily coming to end. Bribery and corruption are common” (Ramalan
tertua yang masih bertahan perihal kehancuran dunia yang semakin mendekat telah
ditemukan tertulis dalam lembaran tanah liat bangsa Assiria yang menyatakan
bahwa dunia kita mengalami kemerosotan di akhir zaman. Ada sejumlah tanda-tanda
bahwa dunia sedang menuju ambang kemusnahannya. Perilaku menyuap dan korupsi merajalela).
Benarkah dunia saat ini sedang dalam ambang kemusnahan? Benarkah berbagai
prediksi yang menghubungkan tahun 2012 sebagai
akhir dunia? Apakah berbagai bencana alam yang bersifat massiv (besar-besaran) dan global
akhir-akhir ini memberikan petunjuk perihal akhir dunia?
Berkaitan dengan prediksi tahun 2012 sebagai akhir dunia, didasarkan
pada ramalan bangsa Maya kuno. Bangsa Maya kuno berpusat di Amerika Tengah dan
puncak kejayaan peradaban mereka adalah disekitar tahun 250 sampai 900 Ms.
Imam-imam bangsa Maya menemukan sistem kalender yang dihubungkan dengan
pengamatan astronomis dan yang dipercaya oleh beberapa orang lebih akurat
dibandingkan kalender yang kita pergunakan sekarang ini. Meskipun demikian
mereka sama sekali tidak mempergunakan alat-alat modern seperti teleskop dan
cukup hanya dengan mempergunakan mata telanjang untuk mempelajari langit.
Seperti apakah kalender bangsa Maya itu? Mereka mendasarkan pada
penyelidikan astronomis dan menciptakan sistem kalender yang merancang sejarah
yang diawali dengan permulaan dunia pada tanggal 11 Agustus 3114 sM. Dengan
mempergunakan sistem kalender matahari, bangsa Maya mengukur waktu dalam 20
unit. Sebanyak 20 kin (hari) mengasilkan winal (bulan); 18 winal menghasilkan
tun (tahun); 20 tun menghasilkan katun (20 tahun) dan 20 katun menghasilkan
baktun (400 tahun). Untuk memastikan kapan dunia berakhir, mereka menghitung
dari awal penciptaan dan mencatat telah berapa lama waktu berjalan. Dengan
berbagai kalkulasi rumit dari tahun ke tahun dari sejak awalnya penciptaan,
mereka menemukan bahwa dunia akan berakhir pada 13 baktun (5200 tahun).
Dan jika dikomparasikan (diperbandingkan) ke dalam kalender Gregorian
maka dunia akan berakhir pada tanggal 21-12-2012 sebagaimana dikatakan oleh
Raymond Hundley dalam bukunya berjudul Will
the World End in 2012? (2010, p. 7-8) Sbb, “Translating the Mayan calendar date into the Gregorian calendar system
used today produces a date of December 21, 2012 as the end-date for the present
age”
(menerjemahkan kalender bangsa Maya ke dalam sistem kalender Gregorian yang
kita pergunakan saat ini, maka dihasilkan angka 21 Desember 2012).
Minat bangsa Maya terhadap penghitungan waktu terlihat dalam kenyataan
bahwa mereka mengembangkan 20 sistem kalender yang berbeda dan tiga diantaranya
dijadikan rujukan oleh bangsa Maya dimana salah satunya yang berisikan
predikisi dunia akan berakhir pada tahun 2012 dan dari kalender ini berasal
kepercayaan bahwa dunia akan berakhir pada tahun 2012 (Mark Hitchchok, p.32-33).
Kitab Suci TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru pun memprediksikan hal
yang sama. Bedanya, Kitab Suci tidak memberikan kepastian perihal tanggal,
hari, bulan maupun tahunnya. Sabda Yesus Sang Mesias sbb, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuanmu
datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam
hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan
membiarkan rumahnya dibongkar” (Mat 24:42-43).
Apa kaitan tema perayaan Pondok Daun (Sukot) kali ini dengan berbagai
ramalan mengenai kiamat 2012?
Trilogi Tujuh Hari Raya YHWH
Di Sinai
YHWH memberikan Torah. Dalam
Torah, YHWH menetapkan Moedim
(waktu-waktu yang tetap) atau hari-hari raya yang berjumlah tujuh (sheva moedim). Ketujuh perayaan tersebut adalah (Imamat
23:1-44) sbb:
- Pesakh (14 Nisan)
- Ha
Matsah (15 Nisan)
- Sfirat ha Omer (menghitung omer setelah shabat moedim)
- Shavuot (hari kelimapuluh setelah menghitung omer)
- Yom
Truah /Rosh ha Shanah (1 Tishri)
- Yom
Kippur (10 Tishri)
- Sukkot (15-21 Tishri)
Tujuh Hari Raya memiliki tiga pemahaman utama sbb: Pertama, Perayaan Historis. Merayakan tindakan YHWH terhadap umat Israel
sejak pembebasan Mesir, penyertaan di padang gurun serta memasuki tanah
perjanjian.
Kedua, Perayaan Kristologis/Mesianis. Merayakan tindakan Yesus Sang Mesias
sebagai wujud sejati yang nubuat karya Mesianisnya terekam dalam Tujuh Hari
Raya YHWH. Rasul Paul berkata dalam Kolose 1:15-16 sbb: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan
dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya
ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Mesias”.
Ayat ini bukan larangan agar orang Kristen melaksanakan perayaan yang
ditetapkan oleh YHWH di Sinai namun perihal larangan agar jemaat Mesias non
Yahudi jangan membiarkan diri mereka dihakimi oleh beberapa kelompok mazhab
Yahudi yang menekankan praktek legalistik dalam pelaksanaan Torah yang
dipaksakan terhadap jemaat non Yahudi sebagaimana DR. David Stern menjelaskan
sbb: “But here it appears that Gentile
Judaizers, perhaps like those in Corinth who put themselves ‘in subjection to a
legalistic perversion of the Torah (1 C 9:20b&N), have set up arbitrary
rules (Shaul brings examples at v.21) about when and how to eat and drink, in order
to ‘take ...captive’(v.8) their fellow Collosian”
(Namun di sini nampaknya orang-orang non Yahudi yang di yahudisasi, seperti di
Korintus yang meletakkan pada diri mereka dalam ketaatan kepada pelaksanaan
Torah yang legalistik (1 Kor 9:20) harus membebaskan diri dari aturan-aturan
dangkal (Shaul memberikan contoh pada ayat 21) mengenai kapan dan bagaimana
makan dan minum agar menjadikan... tawanan).
Pernyataan Rasul Paul memberikan pemahaman bahwa perayaan
yang ditetapkan YHWH di Sinai merupakan bayangan yang wujud nyatanya adalah
Mesias. Barney Kasdan memberikan penjelasan mengenai relevansi Tujuh Hari Raya
bagi kehidupan iman pengikut Mesias sbb: “The
Feast of the Lord or the biblical holy days, teach us about the nature of God
and his plan for mankind...in short, all of the Feast of the Lord were given to
Israel and to grafted-in believer to teach, in practical way, more about God
and his plan for the world
(Hari Raya YHWH atau Hari Raya Biblikal mengajar kita mengenai sifat Tuhan dan
rencana-Nya bagi umat manusia...singkatnya semua Hari Raya YHWH telah diberikan
bagi Israel dan orang beriman yang ditempelkan untuk belajar dalam cara yang
sederhanan mengenai Tuhan dan rencananya bagi dunia).
Jika kita membaca Kitab Perjanjian Baru, baik Mesias maupun
para rasul memberikan makna baru terhadap Tujuh Hari Raya yang menunjuk kepada
kehidupan, kematian, kebangkitan Yesus dari kematian. Simak saja ayat-ayat
berikut:
“Lalu Ia mengambil
roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka,
kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini
menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan
sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh
darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20).
Rasul Paul menegaskan kembali makna Pesakh dan pengorbanan
Yesus di kayu salib dengan mengatakan demikian: “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru,
sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih,
yaitu Mesias” (2 Kor 5:17).
“Karena itu marilah
kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan
dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan
kebenaran” (1 Kor 5:8)
“Tetapi yang benar ialah, bahwa
Mesias telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari
orang-orang yang telah meninggal” (1 Kor 15:20)
“Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Mesias sebagai buah sulung;
sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (1 Kor
15:23)
“Ketika tiba hari
Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah
dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah,
di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api
yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka
dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain,
seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis
2:1-4)
“Sebab pada
waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala
Tuha) berbunyi, maka Junjungan Agung sendiri akan turun dari sorga
dan mereka yang mati dalam Mesias akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita
yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam
awan menyongsong Junjungan Agung di angkasa. Demikianlah kita akan
selama-lamanya bersama-sama dengan Junjungan Agung. Karena itu hiburkanlah
seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini” (1 Tesalonika 4:16-18)
“Dan Ia adalah
pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga
untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh 2:2)
“Lalu
aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan
bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat
kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Tuhan, yang
berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku
mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah
Tuhan ada di tengah-tengah manusia dan Dia akan diam bersama-sama dengan
mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Tuhan mereka” (Wahyu 21:1-3)
Ketiga, Perayaan
Eskatologis. Merayakan apa yang akan terjadi atas dunia sebagai panggung
penggenapan rancangan Tuhan. Tiga hari raya yaitu Rosh ha Shanah/Yom Truah dan
Yom Kippur serta Sukkot berbicara mengenai peristiwa-peristiwa yang akan datang
berkaitan dengan nasib dunia serta alam semesta.
Dalam tradisi lisan dan tertulis Yahudi yang disebut
Talmud, bertebaran berbagai pandangan mengenai ketiga hari raya tersebut
dihubungkan dengan kebangkitan orang mati, kedatangan Mesias dan akhir zaman.
Rosh ha Shanah bukan hanya dirayakan sebagai Tahun Baru Ibrani melainkan hari
kebangkitan dan penghakiman. Yom Kippur dirayakan sebagai hari Pengakuan Dosa
dan Pengampunan serta Pengadilan Tuhan. Sukkot bukan sekedar merayakan
penyertaan YHWH di padang gurun melalui kemuliaan-Nya yang berdiam di Kemah
Suci melainkan diyakini sebagai hari dimana langit dan bumi yang baru akan
terjadi di dunia yang telah hancur musnah. Tuhan YHWH akan berkemah dan menjadi
Raja bagi orang-orang benar.