Sunday, December 31, 2017

TABULA RASA

Meditasi dan Refleksi Januari 2018

Kita tentu pernah mendengar istilah tabula rasa bukan? Tabula rasa adalah ungkapan Latin yang sering diterjemahkan sebagai “blank slate” (batu tulis kosong) dalam bahasa Inggris dan berasal dari tabula Romawi yang digunakan untuk mencatat yang dituliskan dengan memanaskan lilin dan kemudian menghaluskannya.

Sebelum berkembang menjadi teori filsafat pendidikkan yang dipopulerkan oleh John Locke, konsep ini telah dimulai sejak Aristoteles, filsuf Yunani dalam karyanya Peri Psuches (On the Soul) lalu dikembangkan kembali oleh filsuf mazhab Stoa kemudian filsuf Persia Avicenna lantas filsuf Andalusia Ibn Tufail hingga teolog Kristen Abad Pertengahan Thomas Aquinas. John Locke (1632-1704) secara khusus menjelaskan konsep tabula rasa-nya dalam buku Essay Concerning Human Understanding.

Dalam filosofi Locke, tabula rasa adalah teori bahwa pikiran (manusia) ketika lahir berupa “kertas kosong” tanpa aturan untuk memroses data, dan data yang ditambahkan serta aturan untuk memrosesnya dibentuk hanya oleh pengalaman alat inderanya. Pendapat ini merupakan inti dari empirisme Lockean. Anggapan Locke, tabula rasa berarti bahwa pikiran individu “kosong” saat lahir, dan juga ditekankan tentang kebebasan individu untuk mengisi jiwanya sendiri. Setiap individu bebas mendefinisikan isi dari karakternya - namun identitas dasarnya sebagai umat manusia tidak bisa ditukar. Dari asumsi tentang jiwa yang bebas dan ditentukan sendiri serta dikombinasikan dengan kodrat manusia inilah lahir doktrin Lockean tentang apa yang disebut alami. 

Tahun baru yang kita masuki saat ini ibarat kertas kosong nan baru yang siap kita isi dengan pikiran, tindakkan, karya dan prestasi yang tertunda untuk kita realisasikan di tahun-tahun sebelumnya.

Kita memiliki kebebasan untuk memilih hendak menorehkan kebaikkan atau keburukkan pada kertas putih kehidupan. Jika buku lama kita penuh catatan keburukkan, inilah saatnya menutup buku lama dan memulai menuliskan kebaikkan yang baru. Menuliskan keburukkan dalam hidup kita sama buruknya dengan membiarkan kehidupan kita ditentukkan oleh orang lain dan bukan diri kita sendiri.

Tiap-tiap kehidupan yang kita jalani meninggalkan jejak di belakang kita. Sebagaimana kita saat menyusuri tepian pantai berpasir, maka kita akan melihat jejak-jejak kaki kita mengikuti langkah di belakang kita.

Ketika seseorang menceritakan tentang perilaku buruk seseorang akibat melakukan tindakan yang melanggar norma atau melakukan pekerjaan yang harus berhadapan dengan hukum karena melanggar aturan, itulah bukti bahwa kehidupan yang kita jalani selalu meninggalkan jejak yang terbaca oleh khalayak.

Ketika seseorang menceritakan kebaikkan orang yang meskipun sudah meninggal namun meninggalkan kisah kehidupan yang inspiratif dan mendorong orang lain untuk berbuat kebaikkan dan bermanfaat bagi orang banyak, itulah bukti bahwa kehidupan yang dijalani seseorang meninggalkan bekas yang terdokumentasi dalam memori masyarakat.

Semua mengisahkan perihal jejak kehidupan yang sudah mereka tinggalkan, baik atau buruk. Semua kenyataan itu membuktikan bahwa kehidupan seseorang selalu meninggalkan jejak dan bekas yang tertinggal di dalam relasi dan interaksi sosial dengan orang lain. Jika kehidupan yang kita jalani sudah pasti meninggalkan jejak dan bekas, maka sudah selayaknya kita meninggalkan jejak kehidupan yang baik dan bermanfaat bukan?

Meninggalkan jejak kehidupan yang baik adalah pilihan dan keputusan seseorang dan bukan datang dengan sendirinya dalam hati kita. Seseorang bisa memilih untuk meninggalkan jejak kehidupan yang baik atau jejak kehidupan yang buruk. Orang benar (tsadiq) atau orang beriman (maaminim) tentulah harus meninggalkan jejak kehidupan yang baik sebagaimana dikatakan, ארח לצדיק מישׁרים ישׁר מעגל צדיק תפלס - orakh latsadiq mesharim, yashar me’agal tsadiq tefales (Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya, Yes 26:7).

Jika Daud berkata, בידך עתתי - Beyadka itotay (masa hidupku ada dalam tangan-Mu-Mzm 31:16), marilah kita tuliskan berbagai kebaikkan pada sisa waktu yang disediakkan Tuhan bagi kita agar kita meninggalkan jejak kebaikkan dalam lintasan tahun yang dikenang orang selamanya dan membawa manfaat bagi kemanusiaan.

Selamat Memasuki Tahun 2018 dan menorehkan karya dan kebaikkan bagi sesama sebagai jalan memuliakan Tuhan.

No comments:

Post a Comment