Rabu, 23 Agustus 2017

JANGAN SAKITI HATI ANAKMU


Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain. Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. 

Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya tergores. Mengetahui hal itu, segera saja sang ayah tersebut berlari menghampiri anaknya dan tanpa berpikir panjang memukulnya, kemudian tak puas sampai disitu saja, sang ayah juga memukul tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman. Sang Ayah berfikir bahwa dengan melakukan tindakannya tersebut  anak lelakinya tersebut tidak akan mengulangi perbuatan nakalnya. Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke rumah sakit. 

Sesampai di Rumah Sakit, Tim Dokter pun berusaha keras menyelamatkan tangan si anak lelaki tersebut. Akan tetapi walaupun para dokter telah mencoba dengan segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak yang hancur tersebut, tetapi mereka tetap gagal. Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut untuk menghindari infeksi yang lebih parah. 

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos si anak kecil itu berkata, "Papa, aku minta maaf tentang trukmu" Kemudian, ia bertanya, "tetapi kapan jari- jariku akan tumbuh kembali?". Mulut Sang Ayah tercekat tanpa sepatah katapun dan hati yang dipenuhi rasa bersalah, kemudian Sang Ayah pulang ke rumah dan setelah itu melakukan bunuh diri. Orang tua pun dapat berbuat jahat berdosa pada anaknya. 

Ketika orang tua melakukan kekerasan permanen terhadap anaknya, menghinanya di muka umum, merendahkan kemampuannya, maka orang tua telah melakukan perbuatan berdosa dan mematikkan harga diri dan martabatnya serta merusak kepribadian dan masa depannya. 

Kita tentu masih ingat kasus yang belum lama terjadi yaitu seorang anak kedapatan bunuh diri hanya dikarenakan dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya karena nilai rapornya yang buruk bukan? Itulah sebabnya dikatakan, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (Kol 3:21). 

Marilah para orang tua agar menjalankan tugas dan kewajibannya untuk mendidik anak-anaknya. Tindakkan tegas dan keras diperlukan sebagai bentuk kedisiplinan namun jangan sampai mematikkan perkembangan kepribadiannya di masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar