Rabu, 23 Agustus 2017

PERTENGKARAN SUAMI ISTRI


Sepasang suami istri baru saja bertengkar selama beberapa waktu. Setelah hati dan kepala mulai dingin, si istri menghampiri suaminya yang sedang melihat-lihat surat kawin mereka. “Apa yang sedang kamu lakukan?” Tanyanya. Si suami mencoba menyembunyikan dokumen yang ada di tangannya dan berkata, “Aku tidak melakukan apa-apa.” Si istri yang telah melihat dokumen itu, sangat kecewa. “Tidak melakukan apa-apa? Aku melihatmu membaca surat kawin kita. Mengapa kamu berbohong! Kamu sudah mengamati surat kawin itu, dari atas sampai bawah, dibolak-balik lagi! Untuk apa itu?” Merasa kesal, si suami berkata, “Baiklah jika kamu ingin tahu. Dari tadi aku sedang mencari tanggal kadaluarsa surat kawin ini!”. 

Pertengkaran adalah bumbu pernikahan, demikian kalimat bijak yang kerap disampaikan oleh orang tua dan mereka yang telah menjalani kehidupan rumah tangga selama bertahun-tahun. Namun pertengkaran akan berubah menjadi petaka dan kehancuran bagi keberlangsungan rumah tangga jika terjadi secara terus menerus dan tanpa sebuah upaya untuk mencari akar persoalan dan berniat untuk menuntaskan pertengkaran yang kerap terjadi. 

Dalam jangka panjang, pertengkaran yang tidak sehat dapat merampas cinta kasih dan membuat dingin sebuah hubungan. Berikut ini ada lima masalah yang biasanya menjadi alasan suami istri bertengkar seperti dikutip Tempo dari Boldsky: (1) Kebutuhan batin tak terpenuhi. (2) Masalah uang. (3) Mantan dan perselingkuhan (4) Kecanduan (5) Masalah penyesuaian (www. cantik.tempo.co). 

Ada banyak cara untuk menyelesaikan perselisihan dalam rumah tangga tanpa harus berujung pada permusuhan dan perceraian. Keberanian melakukan komunikasi secara terbuka untuk mempercakapkan setiap perbedaan dapat mengurangi pertengkaran yang tidak perlu. 

Meluangkan waktu bepergian bersama ke suatu tempat wisata alam dapat mempererat hubungan satu sama lain karena di sanalah suami istri dan bertukar pikiran secara lebih personal. Saat kemarahan dan kebencian tengah menyelinap di hati kita, cobalah membuka album kenangan saat pernikahan dan masa-masa paska pernikahan (jika memilikinya), untuk sekedar memperbarui kembali komitmen dan mengingatkan kembali kenangan-kenangan manis di masa lalu. 

Membangun dan mempertahankan bahtera rumah tangga membutuhkan komitmen bersama dan bukan salah satu pihak sebagaimana dikatakan, "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Mesias adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Mesias, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Mesias telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Mesias terhadap jemaat" (Ef 5:22-29). 

Marilah menerjemahkan Sabda Tuhan perihal keberfungsian masing-masing anggota rumah  tangga untuk membangun keluarga yang harmonis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar