Wednesday, August 23, 2017

ORANG TUA DAN MERTUA JAHAT


Banyak tulisan dan renungan dibuat untuk mengingatkan kesadaran seorang anak agar berbakti pada orang tua atau seorang menantu agar tidak bertindak semena-mena hingga berlaku durhaka. 

Bahkan ada tulisan dan renungan yang terkesan menempatkan orang tua bahkan seorang ibu seperti seorang dewi yang dipuja dan tidak bisa melakukan kekeliruan dan kejahatan sehingga yang dilakukan seorang anak adalah mematuhinya sekalipun orang tua atau seorang ibu khususnya memerintahkan sesuatu yang sebenarnya mematikan kemandirian berfikirnya bahkan masa depannya. 

Namun tidak semua orang tua dan mertua menyadari kedudukan dan kewajibannya sehingga gagal membangun komunikasi dan relasi yang sehat dengan anak dan menantunya, bahkan mereka berlaku semena-mena mengatasnamakan otoritas sebagai orang tua. 

Berikut ini beberapa contoh. Pada tahun 2013 Diana Reaves Costarakis seorang nenek berusia 70 tahun dari Florida ditangkap polisi karena menyewa seorang pembunuh bayaran untuk menghabisi menantunya. Kasus lain terjadi pada tahun 2006, dimana pengadilan Nottingham County di Inggris menghukum Dalbir Kaur Bhakar untuk membayar denda 35.000 pounds kepada Gina Satvir Singh, menantunya. Singh yang menikah karena dijodohkan dengan Hardeep Bhakar pada November 2002, mengaku menderita lahir dan batin setelah menikah. Setiap hari Singh harus bangun pagi-pagi untuk memulai aktifitas di rumahnya sebagai “pembantu”. Sang mertua yang tinggal bersamanya mulai bangun tidur hingga tengah malam memaksanya untuk melakukan aktifitas pekerjaan rumah menggantikan tugas para pembantu yang sebelumnya telah dipecat oleh sang mertua. 

Bagaimanakah sikap kita terhadap disfungsionalitas orang tua dan mertua sementara Tuhan memerintahkan, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Yahweh Tuhanmu, kepadamu” (Kel 20:12). Sejahat apapun perlakuan orang tua dan mertua terhadap anak dan menantunya, pembalasan memang bukan cara yang dibenarkan.

Namun diam dan tidak melakukan perlawanan serta tidak berani berbeda pendapat serta menegurnya berarti kita telah menyetujui secara diam-diam terhadap semua perilakunya yang keliru. Jadi cara yang paling baik adalah seperti menggunakan gelang karet dimana ada saatnya kita mentolerir tindakkannya yang masih dapat diterima akal dan bertindak tegas menentangnya jika telah melewati batas dan merusak harkat kemanusiaan kita.

Semua anggota rumah tangga (ayah, ibu, anak-anak) dan hubungan kekeluargaan yang lebih luas (mertua dan menantu) berkewajiban untuk menjalankan tugas dan kewajibannya demi menjaga keharmonisan dan keseimbangan hubungan dalam rumah tangga dan keluarga yang lebih luas sebagaimana dikatakan, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam YHWH, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu -- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:  supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.  Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat YHWH" (Ef 6:1-4)

Orang tua termasuk mertua tidak bisa menuntut secara sepihak sebuah sikap penghormatan dan ketundukkan buta dari anak atau mantunya jika dirinya berkata dan bertindak di luar batas nilai dan norma kewajaran bahkan melanggar sabda Tuhan karena dikatakan, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh Torah dan kitab para nabi" (Mat 7:12). Sudahkah para orang tua dan mertua memperlakukan anak-anak dan mantunya sebagaimana mereka mengharapkan anak-anak dan mantunya memperlakukan baik pada mereka?

No comments:

Post a Comment