Rabu, 02 Agustus 2017

MISTERI 666 DAN RASIONALITAS MENGHADAPI KETEGANGAN ZAMAN


Angka 666 begitu penting dalam teologi Kristen (setidaknya bagi denominasi/mazhab tertentu dalam Kekristenan) karena dihubungkan dengan bilangan figur profetis yaitu Anti Mesias (Anti Kristus). Ada banyak tafsiran dan spekulasi mengenai makna dan siapa serta dalam bentuk apa angka 666 tersebut dipergunakan. 

Tafsir dan spekulasi perihal “siapa Anti Kristus” telah berlangsung berabad-abad, mulai dari gelar Paus “Vicarius Filii Dei” (Wakil Putra Tuhan) yang jika dikalkulasikan dalam abjad Latin menghasilkan angka 666. Demikian pula Kaisar Nero yang jika di Ibranikan “Nron Qsr” yang jika dikalkulasikan akan menghasilkan angka 666. Nama-nama seperti Hitler, Musolini telah menjadi kandidat kalkulasi angka 666. Bahkan di era modern dan demokrasi, nama Bill Clinton, Barack Obama pun menjadi sasaran tembak penafsiran “liar” perihal Antikristus. Jika angka “666” menunjuk pada kode angka manusia (Why 13:18) dan perihal “tanda yang disematkan pada tangan dan dahi” menunjuk pada sistem dan perangkat yang akan dipergunakan sebagai kendali kontrol ekonomi dan politik (Why 13:16-17). 

Jika dahulu orang menafsirkan simbol 666 berupa gambar cap atau tatoo, maka di era teknologi informasi tafsiran diarahkan pada sistem micro chip yang ditanam dalam anggota tubuh manusia, baik di tangan maupun kening. Lambang-lambang perekonomian seperti bar code yang disematkan dalam tiap barang dagangan atau kode www (world wide web) dalam teknologi internet kerap dihubungkan dengan simbol-simbol Anti Mesias. Bahkan komputer pernah ditafsirkan sebagai kode yang menyimpan nama Anti Mesias dengan menghitung demikian, C (3X6 =18) O (15X6 = 90) M (13X6 = 78) P (16X6 = 96) U (21X6 =126) T (20X6 =120) E (5X6 =30) R (18X6 =108). Jika ditotalkan menghasilkan angka 666.

 

Sejak merebaknya teknologi informasi, dimulai dari kemunculan komputer hingga smart phone, tafsiran berkembang bukan lagi pada sosok atau figur Antikris/Anti Mesias melainkan pada produk modern. Ketika smartcard merk Mondex (perusahaan Inggris yang didirikan tahun 1993) dipopulerkan, muncul tafsir dan paranoia (ketakutan berlebihan) bahwa kartu kredit ini akan menjadi alat transaksi jual beli dunia. Bahkan muncul informasi bahwa Mondex kepanjangan dari Monetary & Dexter. Dan mereka menggunakan SET protocol untuk semua sistem transaksinya. Menurut Webster's Dictionary Encyclopedia Edition artinya: "Monetary" (uang) dan "Dexter" (located on the right hand). Singkatan SET menurut mereka pembalikkan dari nama yang disingkat  dari The Egyptian god of evil or Satan. Padahal SET protocol aslinya kepanjangan dari Secure Elektronic Transaction. Namun tahun 1996, Mondex justru berakhir ditangan perusahaan bernama Mastercard pada tahun 1996.

Masih ingat kehebohan saat peluncuran kartu GSM AXIS untuk hand phone dengan tarifnya 60/sms 60/menit 600/mms yang membentuk formasi angka 666 dan penafsiran kata AXIS sebagai kebalikan dari SIXA=siksa sedangkan AXIS=Anti Kris? Lalu paranoia itupun lenyap dan banyak orang masih menggunakan kartu Axis sampai hari ini.

Lucent Technologies, pernah dihubungkan sebagai singkatan Lucifer Enterprises. Lucent Technologies sendiri adalah perusahaan peralatan telekomunikasi multinasional Amerika yang berkantor pusat di Murray Hill, New Jersey, di Amerika Serikat. Didirikan pada tanggal 30 September 1996, melalui divestasi unit bisnis AT & T Technologies sebelumnya dari AT & T Corporation, yang mencakup Western Electric and Bell Labs. Lucent bergabung dengan Alcatel SA dari Perancis dalam penggabungan sama pada tanggal 1 Desember 2006, membentuk Alcatel-Lucent.  Alcatel-Lucent diserap oleh Nokia pada bulan Januari 2016.

Tahun 2017 ini kita dihebohkan dengan RFID (Radio Frequency Identification) Chip. Apalagi pada salah satu event yang diselenggarakan Indonesian Convention Exhibition disinyalir ada demo pemasangan RFID Chip pada tanggal 27-30 Juli 2017. Sebelum teknologi ini heboh di tahun 2017, di Tahun 2005 kehebohan di mulai di Amerika. President George Bush pada bulan Mei 2005 sudah menyetujui National ID Passport yang didalamnya terdapat Verichip bagi orang yang tinggal maupun kerja di US untuk menggunakan National ID tersebut. Bagi mereka ini bukan hanya akan menjadi National ID tetapi National Database, karena kemudahan mengakses data-data dari seseorang. Tahun 2015 lalu, NBC News memprediksi tahun 2017, seluruh warga Amerika akan ditanam microhip. Microchip ini berfungsi untuk mengidentifikasi dan mengontrol orang. Menurut laporan itu, teknologi itu untuk menjawab “Am I Who Say I Am?” (Apakah Aku Yang Berkata Aku).

Jack Ma, raksasa e-commerce asal China pendiri Alibaba.com bulan Juli 2017 ini meresmikan Tao Cafe, sebuah supermarket serba otomatis dan tanpa kasir. Untuk bisa berbelanja di Tao Cafe, pengunjungnya wajib terlebih dahulu terdaftar sebagai pengguna Alipay. Pasalnya seluruh transaksi akan melalui payment gateway tersebut. Selain itu pengunjung yang ingin masuk sebelumnya juga harus memindai QR code yang terdapat pada aplikasi Taobao. Sistem di supermarket Tao Cafe akan mampu mengenali tiap barang yang diambil pengunjung, dan secara otomatis akan memotong saldo Alipay pengguna. Belum diketahui bagaimana sistem melakukan pengenalan, tapi sepertinya Tao Cafe dibekali banyak sensor yang tersebar di berbagai sudut toko. Dari teknologi ini kita bisa melihat bahwa jika RFID Chip bisa ditanamkan di tangan, ternyata itu bukan satu-satunya pilihan. Teknologi non chip yang ditaruh sebagai sensor otomatis di produk dan alat belanjaan pun ternyata bisa menjamin lancar dan amannya transaksi. Apalagi tteknologi RFID lebih mahal ketimbang teknologi Barcode. Jika teknologi Barcode memiliki harga US$ 0,01 atau sekitar Rp 137 maka teknologi RFID berharga US$ 0.20 atau sekitar Rp 2 ribu sampai US$ 2 atau Rp 27 ribu tergantung kebutuhan.

Paranoia Antikris/Dajjal juga disebarluaskan melalui film dokumenter Don't Mind The Men Behind The Curtain (2007) oleh Aaron Russo, seorang pembuat film dan mantan polisi, dalam pernyataannya dalam film itu mendapatkan kejutan pernyataan dari Nichollas Rockekefeller bahwa dunia ini tengah menuju kekaisaran tunggal. Dalam film dokumenter berjudul, Lo and Behold: Reveries of the Connected World (2016) Werner Herzog pembuat film hendak menyampaikan pesan bahwa internet adalah manifestasi dari Antikristus. Jika film di atas menyalahkan teknologi dan individu tertentu, maka di film 2012 karya sutradara Roland Emmerich berbicara perihal kiamat dan kehancuran dunia yang berakhir pada 2012 didasarkan ramalan suku Maya di Amerika Latin.

Benarkah semua tafsiran tersebut? Yang jelas, sebagian dari tafsiran itu telah terbukti keliru dan tidak memadai sesuai dengan perkembangan zaman sementara sisanya masih bertahan menunggu pembuktian apakah tepat dan akurat dengan teks yang menuliskannya. Tidak mudah mengartikan makna angka 666 yang dihubungkan dengan nama manusia ini dikarenakan kita akan berhadapan dengan problem, dalam bahasa dan sistem angka mana kita akan melakukan penghitungan, apakah menggunakan bahasa dan sistem numerikal Ibrani atau Yunani? 

Mengapa kita tidak mengembangkan imajinasi bahwa berbagai produk yang menimbulkan kehebohan tersebut justru terinspirasi dari berbagai tafsir dan paranoia yang berkembang dalam masyarakat Kristen khususnya terhadap “tanda binatang” dalam Wahyu 13? Bukankah terbuka berbagai kemungkinan bahwa teknologi yang mereka desain dan jual belikan mengambil manfaat dari paranoia orang-orang Kristen? Pro kontra terhadap sebuah produk bisa saja meningkatkan keingintahuan dan daya beli bagi masyarakat tertentu.

Apapun tafsirannya, kita tidak perlu terlalu memutlakkan salah satu tafsir. Yang jelas Wahyu 13 mengingatkan kita perihal akan datangnya dua tokoh di akhir zaman yaitu Anti Mesias (binatang yang keluar dari laut) dan Nabi Palsu (binatang yang keluar dari bumi). Akan ada sistem ekonomi totalitarian dimana melalui simbol dan sistem yang diciptakan setiap orang akan melakukan transaksi ekonomi dimana simbol dan sistem itu merujuk pada angka 666. Namun belajar dari kesalahan dan kegagalan tafsir dan dugaan bermuatan paranoia sebelumnya (mulai dari paranoia soal komputer, internet, logo produk, teknologi bar code, teknologi implan chip dan entah apa lagi), hendaklah kita berhati-hati dalam memastikan tafsir teks dikarenakan teks Wahyu pada umumnya dan Wahyu 13 khususnya terkategori sastra apokaliptik yang berbicara perihal masa depan dalam bahasa simbolik.

Saat sebuah krisis melanda (sosial, ekonomi, politik) akan melahirkan fenomena pelarian diri. Agama kerap menjadi pelarian diri yang paling banyak dituju (sekalipun dibelahan Amerika dan Eropa, agama hanya tinggal nama). Para pengkotbah mulai menghubung-hubungkan krisis dengan akhir zaman (yang terbaru adalah fenomena bulan darah dan tahun shemitah sebagaimana lazimnya perilaku beragama ini telah dilakukan pada krisis-krisis sebelumnya).

John Naisbit dan Patricia Aburdene seorang Futurolog (sekalipun sempat meleset memprediksikan perihal kebangkitan Asia pada milenium ke-3 dan sebaliknya tahun 1997 justru Asia mengalami krisis ekonomi) telah memprediksikan gejala paranoia agama tersebut pada tahun 80-an melalui bukunya, Megatrends 2000: Sepuluh Arah Baru Untuk Tahun 1990-an sbb: " Sementara kita mendekati tahun 2000, hal itu terjadi lagi. Ketika orang percaya 'waktunya sudah tiba' mereka secara khas berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil di sekeliling pemimpin yang penuh semangat dan eksentrik. Menggemakan gerakan masa lalu, jutaan orang dewasa ini tertarik ke ujung yang tidak ortodox dari spektrum agama: Dari penyalur Abad Baru hingga karismatik 'berbahasa lidah' hingga pendeta TV yang rentan skandal" (1990:255).

Kita bukan diminta berlaku paranoia ataupun menduga-duga melainkan gunakanlah Hikmat agar dapat menghitung makna dibalik angka 666 (Why 13:18). Jika nama Mesias dalam bahasa Yunani – Iesous - berjumlah 888 yang bermakna kesempurnaan kebaikkan maka 666 adalah simbolisasi kesempurnaan dalam kejahatan dan ketidaksempurnaan. Apapun yang terjadi sebagaimana dikatakan, “Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang” (Why 13:8). Dan sekalipun dikatakan Antikristus/Anti Mesias, “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya” (Why 13:16). Fokus dan perhatian kita bukan  menghabiskan waktu menjadi penghitung kapan zaman berakhir dan siapa dan apa yang merujuk pada angka 666, melainkan sebagaimana disabdakan, “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Tuhan dan iman kepada Yesus” (Why 14:12). Kata Yunani yang diterjemahkan untuk “ketekunan” adalah Hupomone yang artinya “kemampuan untuk menanggung beban” dan biasa diterjemahkan dengan “kesabaran”, “ketekunan”. Kata yang sama dipergunakan dalam Matius 24:13 dan diterjemahkan dengan “bertahan” sebagaimana dikatakan, “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat”. 

Fokus kita adalah Tuhan YHWH Sang Bapa di dalam Yesus (Yahshua/Yeshua) Sang Mesias agar kita dimampukan menghadapi semua keadaan yang berubah drastis dan menimbulkan tekanan (Why 14:12). Fokuskan pula pada kekalahan Anti Mesias/Antikris tinimbang memfokuskan pada apa yang dia akan lakukan pada dunia sebagaimana dikatakan, “ dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya” (Why 20:10). Fokuskan pada kemenangan akhir bagi orang benar dan kemuliaan yang menantinya di negeri dimana tidak ada sakit penyakit dan tetes air mata kesedihan sebagaimana dikatakan, “Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Tuhan ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Tuhan mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why 21:13-14). Dengan memfokuskan pada Tuhan dan kebenaran sabda-Nya, maka kita dimampukan untuk menghadapi situasi darurat dengan ketenangan dan kekuatan yang daripada-Nya sehingga kita akan menghadapi segala sesuatu dengan kecernihan berfikir dan kebeningan memahami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar