Jumat, 28 Juli 2017

KEKUATAN DIBALIK KETENANGAN


Seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. 

Teman-teman karyawan yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.  

Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. 

Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Kini hanya dia seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu. “Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?” Tanya si tukang kayu. “Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi ‘to-tak, tok-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada” Anak itu menjawab. 

Di dunia yang semakin memuja kecepatan dan ketepatan sebagai konsekwensi modernitas dan perkembangan teknologi informasi, nampaknya berdiam diri dan bersikap tenang bisa dianggap tindakan yang tidak efisen dan membuang waktu. Namun sejatinya dalam ketenangan kita bisa mendapatkan kekuatan kembali. Air yang keruh saja akan mengendap keruhnya saat kembali menjadi tenang dari goncangan dan riak sehingga kita bisa melihat segala sesuatunya menjadi bening dan bersih.  

Sebagaimana dikatakan sabda Tuhan, “...behashqet uvevitkhah tihyeh gevuratekem..” (dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu, Yes 30:15) maka kita bukan hanya membutuhkan kecepatan dalam mengambil keputusan melainkan ketenangan (shaqat). Ketenangan bukan hanya menghasilkan kekuatan dan kemampuan menemukan solusi terhadap persoalan melainkan memberi kesegaran pada tubuh (Ams 14:30) dan membuat seseorang dapat berdoa (1 Ptr 4:7), sekalipun ketenangan itu hanya segenggaman sebagaimana dikatakan, "Segenggam ketenangan (melo kaf nakhat) lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin" (Pengkt 4:6)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar